Rupiah Jatuh Bebas ke Rp17.926! Dolar AS Makin Perkasa, Ada Apa Gerangan?

3 Likes comments off
Rupiah Jatuh Bebas ke Rp17.926! Dolar AS Makin Perkasa, Ada Apa Gerangan?

Rupiah Terperosok, Dolar AS Menguasai Pasar

Rakyatnesia – 04 Juni 2026 | Dalam hiruk pikuk pasar keuangan yang penuh gejolak, nilai tukar Rupiah kembali menunjukkan taringnya yang rapuh. Pagi tadi, Rabu (3/6/2026), mata uang Garuda terpaksa menelan pil pahit saat dibuka melemah 39 poin, terperosok ke angka Rp17.878 per Dolar AS. Tekanan ini tak berhenti di situ. Menjelang penutupan sesi, Rupiah semakin tertekan, bahkan menembus angka psikologis yang mengkhawatirkan: Rp17.926 per Dolar AS. Data dari RTI menunjukkan Dolar AS berayun di kisaran Rp17.915, menggarisbawahi dominasi mata uang Paman Sam.

Sejujurnya, saya sempat melihat sekumpulan burung merpati terbang rendah di atas Monumen Nasional pagi ini, sebuah pemandangan yang jarang terjadi di tengah kesibukan kota.

Baca juga:
Viral Video ‘Enam Jari’: Hoaks Kematian PM Israel Netanyahu Dibantah Resmi, Fakta Kesehatan dan Kekayaan Sang Pemimpin

Badai Datang dari Dua Arah: Internal dan Eksternal

Para analis dan pelaku pasar sepakat, anjloknya Rupiah bukanlah disebabkan oleh satu faktor tunggal. Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, menyoroti adanya ketidakpastian yang membayangi perkembangan konflik geopolitik global. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang ambigu terkait pembicaraan dengan Iran, ditambah dengan penangguhan negosiasi dari pihak Teheran, menciptakan riak di pasar internasional. “Ketegangan AS dan Iran menjadi salah satu sentimen eksternal yang paling terasa dampaknya,” ujar Ibrahim dalam sebuah kesempatan wawancara. Ia menambahkan, “Lebanon pada hari Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang akan menjadi de-eskalasi terbatas dari konflik yang telah memperparah perang yang lebih luas dengan Iran.”

Namun, badai tak hanya datang dari luar. Dari dalam negeri, beberapa data ekonomi juga turut membebani sentimen pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi sebesar 3,08% YoY pada Mei 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan. Di sisi lain, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia menunjukkan sinyal positif dengan naik ke level 50,0 pada Mei 2026. “Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi,” jelas Ibrahim, menggambarkan kompleksitas tantangan di sektor riil.

Prediksi Suram: Rp18.000 di Depan Mata?

Proyeksi untuk hari-hari mendatang pun tak kalah mengkhawatirkan. Berdasarkan penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026) yang mencapai Rp17.966,5 per Dolar AS – level terendah sepanjang masa – analis memprediksi Rupiah bisa saja menembus angka Rp18.000. Vadhia Lidyana dari IDN Times melaporkan, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman, mengidentifikasi tingginya permintaan Dolar AS sebagai penyebab utama. “Bond-nya Amerika, Amerika US Treasury itu masih lebih menarik, itu juga mempengaruhi,” ungkap Rizal, merujuk pada daya tarik imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Baca juga:
Asia Timur dan Afrika Bersatu Cari Solusi Energi Baru di Tengah Krisis Global

Faktor musiman juga disebut-sebut turut berperan. Peningkatan aktivitas seperti ibadah haji di bulan Mei dan Juni secara alami meningkatkan permintaan Dolar AS. Lebih jauh lagi, Rizal menyoroti kekhawatiran pasar terhadap kredibilitas fiskal dalam negeri. “Belanja fiskal juga harus betul-betul ke sektor-sektor produktif yang benar-benar menciptakan ekonomi produktif yang bisa membuat nilai tambah,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya tata kelola program dan sasaran belanja yang tepat sasaran, karena pasar sangat sensitif terhadap isu kredibilitas fiskal dan kelembagaan keuangan.

IHSG Ikut Terpukul, Investor Cemas

Tak hanya Rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun tak luput dari terpaan badai. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), IHSG dilaporkan anjlok lebih dari 4 persen menjelang penutupan sesi pertama. Mengutip data RTI, IHSG melemah 4,34% ke 5.924, sementara indeks LQ45 turun 4,13% menjadi 593. Seluruh indeks saham acuan terpantau tertekan. Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengaitkan koreksi tajam IHSG ini dengan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. “Pergerakan JCI masih berada di fase downtrend -nya dan belum menunjukkan ada tanda pembalikan arah yang valid,” tambahnya, mengindikasikan potensi volatilitas lebih lanjut di pasar saham.

You might like

About the Author: divan

Seorang penulis di kanal sepakbola, menyukai sepakbola sejak puluhan tahun lalu. Dan gemar menulis artikel bola sejak tahun 2014 sampai sekarang.