Misteri Jeriken di Bone: Subsisi Dilarikan, Rakyat Menjerit
Rakyatnesia – 04 Juni 2026 | Di tengah panasnya konstelasi politik global yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia, sebuah praktik busuk justru semakin subur di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang seharusnya melayani kebutuhan masyarakat, kini menjadi ladang basah bagi para ‘mafia’ Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Pemandangan antrean panjang puluhan jeriken yang dibawa oleh para pelangsir telah menjadi tontonan sehari-hari, seolah dibiarkan begitu saja oleh mata yang seharusnya awas.
Sebuah pengalaman pahit datang dari Nasir, seorang sopir truk yang saban hari berjuang mencari nafkah. “Kalau di sini sudah lumrah, truk-truk antre berjam-jam tapi yang dilayani justru pelangsir BBM yang bawa puluhan jeriken,” keluhnya dengan nada getir saat ditemui di salah satu SPBU di Kecamatan Tanete Riattang. Ironisnya, aktivitas ilegal yang begitu mencolok ini seolah tak tersentuh hukum, menyisakan pertanyaan besar tentang pengawasan dan penegakan aturan.
Pernahkah Anda merenungkan betapa rumitnya proses pembuatan secangkir kopi yang sempurna? Mulai dari pemilihan biji, teknik sangrai, hingga metode penyeduhan, semuanya memerlukan ketelitian dan dedikasi. Kehidupan memang penuh dengan detail-detail kecil yang seringkali terlewatkan namun sangat berpengaruh pada hasil akhir.
Terbongkar! Modus Licik Pelangsir Kakap Beromzet Jutaan
Meski terkesan dibiarkan, praktik ini ternyata tidak sepenuhnya luput dari perhatian aparat. Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bone berhasil meringkus seorang pelaku pelangsir kelas kakap berinisial SK (52) pada Kamis (7/5/2026). Di tangannya, petugas mengamankan barang bukti yang mencengangkan: 46 jeriken ukuran 35 liter berisi BBM subsidi, beserta satu unit mobil yang dimodifikasi khusus untuk ‘mengangkut’ hasil jarahan tersebut. SK, yang telah beraksi selama dua tahun, menggunakan modus cerdik dengan memanfaatkan barcode atau kartu rekomendasi milik orang lain untuk menyedot BBM subsidi dalam jumlah besar.
“Modusnya adalah memakai kartu atau rekomendasi milik orang lain dan pengakuan dijual ke petani dengan keuntungan Rp 40 ribu per jeriken,” ungkap Kasat Reskrim Polres Bone, AKP Alvin Aji Kurniawan, saat dikonfirmasi.
BBM hasil langsirannya kemudian diselundupkan dan dijual kembali ke sejumlah pabrik industri di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, bahkan diencerkan ke petani lokal yang membutuhkan. Namun, meski pelaku dan barang bukti telah diamankan sejak bulan lalu, proses hukum kasus ini justru menemui jalan buntu, minim progres yang signifikan. Keadilan terasa masih jauh dari genggaman.
Pertamina Berbenah: Dari Bali Hingga Ambon, Jaga Pasokan Tetap Optimal
Di sisi lain spektrum, ada upaya serius dari PT Pertamina untuk memastikan kelancaran pasokan dan kualitas layanan di berbagai daerah. Dewan Komisaris Pertamina baru-baru ini melakukan peninjauan langsung ke sejumlah SPBU di Bali. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan bahwa standar operasional, keandalan fasilitas, dan ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat, terutama di destinasi wisata utama, tetap terjaga optimal. SPBU COCO 51.801.30 Denpasar Timur, SPBU 54.80.115 di Jalan Raya Puputan, Renon, dan SPBU 54.801.06 di Jalan Bypass Ngurah Rai, Sanur, menjadi lokasi yang diperiksa.
Sementara itu, di Ambon, PT Pertamina Patra Niaga Regional Maluku-Papua memberikan respons cepat terhadap pelanggaran yang terjadi. Meskipun penyaluran Pertalite di SPBU Kebun Cengkeh Ambon dihentikan sementara selama sebulan sebagai sanksi, Pertamina menegaskan bahwa stok BBM, khususnya Pertalite, untuk Kota Ambon secara keseluruhan tetap aman. Pejabat Sementara Area Manager Communication, Relation, dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua-Maluku, Bramantyo Rahmadi, memastikan bahwa mekanisme suplai dan penyaluran ke SPBU lain seperti SPBU Pohon Pule, SPBU Galala, dan SPBU Belakang Kota berjalan normal. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap mengisi BBM sesuai kebutuhan di SPBU terdekat.
Fenomena kelangkaan BBM bersubsidi di Batam pada tahun 2012 lalu juga menjadi pengingat akan kerentanan sistem distribusi. Antrean panjang kendaraan di SPBU Tiban Lama, Pelita, hingga Sei Ladi, bahkan menyebabkan kemacetan parah. Kala itu, kuota BBM subsidi Kota Batam hampir habis di akhir November, padahal seharusnya masih tersisa sekitar 10 persen jika merujuk pada rata-rata distribusi bulanan. Permintaan penambahan alokasi dari wilayah lain pun sempat diajukan untuk mengatasi defisit pasokan.
Menjaga Api Kepercayaan: Tantangan dan Harapan di SPBU
Kasus di Bone, dengan modus pelangsiran yang terorganisir, menunjukkan betapa rentannya sistem pengawasan terhadap BBM bersubsidi. Keuntungan pribadi yang diraup oleh segelintir oknum mafia jelas mengorbankan masyarakat kecil yang seharusnya menjadi prioritas utama. Di sisi lain, upaya Pertamina di Bali dan Ambon menunjukkan komitmen untuk menjaga stabilitas pasokan dan kepercayaan publik. Namun, perlu diingat, sanksi tegas dan pengawasan ketat harus terus digalakkan, bukan hanya reaktif terhadap pelanggaran, tetapi juga proaktif mencegahnya.
Perjalanan hidup terkadang terasa seperti mengemudikan mobil di jalan yang penuh lubang; butuh kesabaran ekstra dan fokus untuk melewatinya tanpa masalah. Namun, di setiap tantangan, selalu ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dan memperkuat diri untuk masa depan yang lebih baik.