Jakarta Diselimuti Kabut Panas, Suhu Tembus 35 Derajat Celsius!
Rakyatnesia – 05 Juni 2026 | Langit Jakarta pada Jumat (5/6/2026) diprediksi akan didominasi oleh awan, namun jangan salah sangka, teriknya matahari takkan terhalang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca yang menunjukkan suhu udara di ibu kota akan terasa menyengat, bahkan mencapai puncak 35 derajat Celsius di beberapa wilayah. Keringat sepertinya akan menjadi teman setia warga Jakarta sepanjang hari ini, dengan kelembapan udara yang juga tergolong tinggi.
Di Jakarta Pusat, suhu diperkirakan berkisar antara 26 hingga 34 derajat Celsius, sementara Jakarta Barat sedikit lebih panas, 26-34 derajat Celsius. Namun, predikat wilayah terpanas jatuh pada Jakarta Selatan, yang diprakirakan akan merasakan suhu antara 25 hingga 35 derajat Celsius. Jakarta Utara dan Jakarta Timur juga tak kalah gerah, dengan suhu maksimum masing-masing 33 dan 35 derajat Celsius. Hanya Kepulauan Seribu yang menawarkan sedikit kelegaan dengan suhu yang lebih sejuk, 28-30 derajat Celsius.
Bahkan, memasuki hari Sabtu (6/6/2026), kondisi cuaca diperkirakan tidak akan banyak berubah. Langit ibu kota masih akan diselimuti awan, meski sesekali diselingi cerahnya malam hari. Suhu di Jakarta Selatan diprediksi masih akan berada di kisaran 25-34 derajat Celsius, menegaskan bahwa musim panas masih memegang kendali.
Di tengah teriknya Jakarta, sebuah fakta mengejutkan terungkap: banjir ternyata masih mengintai di musim kemarau. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa fenomena dinamika atmosfer yang kompleks menjadi biang keroknya. Gelombang Rossby Ekuator, gelombang Kelvin, dan Madden-Julian Oscillation (MJO) adalah beberapa di antaranya yang dapat memicu variasi cuaca tak terduga.
“Ada juga terkait dengan gelombang Rossby ekuator, gelombang Kelvin, MJO (Madden-Julian Oscillation), dan sebagainya yang dapat menimbulkan variasi harian,” kata Fathani.
Penjelasan ini mengindikasikan bahwa meskipun telah memasuki periode kemarau, curah hujan masih berpotensi turun di beberapa wilayah. Hingga akhir Mei lalu, baru sekitar 24 persen dari total 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia yang secara resmi memasuki masa kemarau. Sisanya, baru akan menyusul di bulan Juni. Lebih lanjut, Fathani memaparkan bahwa dampak penurunan intensitas hujan akibat El Nino tidak melanda seluruh wilayah secara merata, melainkan terkonsentrasi di bagian garis khatulistiwa sisi selatan.
Faktor manusia juga tak luput dari sorotan. Pembangunan kawasan perumahan yang masif, pendangkalan sungai, alih fungsi lahan, dan kerusakan lingkungan telah meningkatkan kerentanan terhadap bencana. Guyuran hujan dengan intensitas sedang yang dulu tak menimbulkan masalah, kini bisa memicu banjir bandang dan tanah longsor.
Perbedaan Maut: Karhutla Gambut vs. Non-Gambut
Tak hanya banjir, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi perhatian serius. BMKG mengungkap adanya perbedaan karakteristik yang fatal antara karhutla di lahan gambut dan lahan non-gambut. Di daerah gambut, api cenderung membara di bawah permukaan, sulit dipadamkan, dan menghasilkan gas berbahaya. Pola ini sangat berbeda dengan lahan non-gambut, di mana api membakar vegetasi permukaan dengan cepat.
Karena tingkat kesulitan mitigasi yang tinggi dan risiko sebaran bara bawah tanah, enam provinsi dengan lanskap gambut terluas menjadi fokus penanganan super intensif: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Operasi modifikasi cuaca pun digelar untuk meningkatkan peluang hujan di kawasan rawan kebakaran. Sangat penting bagi kita semua untuk terlibat aktif dalam pencegahan, karena musim kemarau 2026 berpotensi lebih kering akibat El Nino yang kian aktif.
Prancis Ulurkan Tangan: Kolaborasi Riset untuk Mitigasi Bencana dan Iklim
Di tengah berbagai tantangan cuaca dan bencana yang dihadapi Indonesia, kabar baik datang dari kancah internasional. Institut de Recherche pour le Développement (IRD) atau Lembaga Penelitian Nasional Prancis untuk Pembangunan Berkelanjutan memperkuat kerja sama riset dengan berbagai lembaga di Indonesia, termasuk BMKG, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian nasional lainnya.
Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan teknologi mitigasi bencana, riset perubahan iklim, pemantauan gunung api, biodiversitas laut, hingga penguatan sistem peringatan dini. Kunjungan Direktur Utama IRD, Valérie Verdier, ke Indonesia menjadi momentum penting untuk menata kerja sama ini menjadi lebih terstruktur dan berorientasi jangka panjang. Dukungan pendanaan dan komitmen jangka panjang dari kedua negara akan difokuskan, sementara implementasi teknis dilakukan melalui kolaborasi antarilmuwan dan institusi riset.
“Yang baru-baru ini kami berikan adalah peralatan baru untuk mendeteksi dengan lebih baik, misalnya dalam vulkanologi atau gempa bumi,” ujar Valérie.
Teknologi baru ini akan digunakan untuk membantu masyarakat memahami potensi risiko di wilayah tertentu, mulai dari ancaman tsunami, gempa bumi, erosi, hingga dampak perubahan iklim pada sektor pertanian dan kelautan. Kolaborasi ini berbasis kebutuhan konkret Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan risiko bencana alam, sebuah langkah maju yang patut diapresiasi.
Sementara itu, di Banten, cuaca pada 5-6 Juni 2026 diprakirakan berawan, namun beberapa wilayah masih berpotensi diguyur hujan ringan hingga sedang. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang mendadak.