Rakyatnesia – 23 Maret 2026 | Film aksi‑drama berbahasa Hindi Dhurandhar The Revenge kembali mencuri sorotan setelah menorehkan prestasi box office yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Dengan durasi hampir empat jam (3 jam 49 menit), film yang disutradarai oleh Aditya Dhar ini tidak hanya memukau penonton domestik, tetapi juga berhasil mengungguli film Hollywood beranggaran tinggi Ready Or Not 2: Here I Come di pasar internasional. Keberhasilan ini berdampak signifikan pada strategi penayangan jaringan bioskop, termasuk Cinema 21, yang kini menambah jumlah slot tayang untuk memanfaatkan gelombang antusiasme penonton.
Plot dan Kekuatan Produksi
Dhurandhar The Revenge melanjutkan kisah Jaskirat Singh Rangi (Ranveer Singh), seorang agen intelijen India yang menyusup ke jaringan kriminal Karachi dan terlibat dalam intrik politik Pakistan. Film ini menampilkan rangkaian aksi yang intens, didukung oleh aktor papan atas seperti Arjun Rampal, Sanjay Dutt, R. Madhavan, serta anak-anak berbakat seperti Sara Arjun. Cerita terinspirasi dari peristiwa geopolitik nyata, termasuk Operasi Lyari, pemilihan umum India 2014, dan demonetisasi uang kertas 2016, menjadikannya lebih dari sekadar hiburan semata.
Rekor Box Office Domestik
Pada hari Sabtu, 21 Maret 2026, Dhurandhar The Revenge mencatat pendapatan harian sebesar Rp100 miliar, menandai rekor tertinggi dalam sejarah perfilman India di pasar Indonesia. Data dari Cinepoint menunjukkan bahwa film ini menarik lebih dari 600.000 penonton dalam seminggu pertama, menempati posisi pertama dalam daftar film Lebaran 2026, meski film horor lokal Danur: The Last Chapter masih memimpin secara keseluruhan dengan 628.691 penonton.
Dominasi di Pasar Internasional
Laporan Deadline mencatat bahwa film Hollywood Ready Or Not 2: Here I Come membuka dengan pendapatan US$9 juta di luar negeri, sementara Dhurandhar The Revenge mengungguli dengan US$10,5 juta. Keberhasilan ini menegaskan daya tarik global film India, sekaligus menantang ekspektasi industri Hollywood di pasar Asia Selatan.
Respons Cinema 21 dan Rantai Bioskop Lain
Menanggapi lonjakan permintaan, Cinema 21, salah satu jaringan bioskop terbesar di Indonesia, menambah jadwal tayang hingga empat kali sehari di beberapa lokasinya. Sebuah contoh konkret adalah Bahar Cinema di Mumbai, yang secara luar biasa menyiapkan empat sesi penayangan pada 22 Maret 2026, termasuk sesi pagi pukul 08.00 dan sesi tengah malam pukul 02.30. Kebijakan khusus ini, yang melanggar regulasi standar penayangan setelah pukul 17.00, menunjukkan fleksibilitas operator untuk mengakomodasi penonton setia.
Selain Bahar Cinema, beberapa studio lain seperti Kasturba Cinema (Malad) dan Woodland Cinemas (Virar) juga menyiapkan sesi awal dan larut malam yang hampir terjual habis. Cinema 21, yang memiliki jaringan lebih dari 200 layar di seluruh Indonesia, diperkirakan akan menambah kapasitas serupa, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, guna memaksimalkan pendapatan tiket.
Box Office Lebaran 2026: Persaingan Ketat Antara Film Lokal dan Internasional
Periode Lebaran 2026 menjadi arena kompetitif bagi film lokal dan internasional. Berikut ini rangkuman perolehan penonton selama 16‑22 Maret 2026 menurut data Cinepoint:
| Posisi | Film | Penonton |
|---|---|---|
| 1 | Danur: The Last Chapter | 628.691 |
| 2 | Dhurandhar The Revenge | ≈600.000 |
| 3 | Tunggu Aku Sukses Nanti | 390.452 |
| 4 | Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa | 289.804 |
Walaupun film horor lokal tetap memegang porsi terbesar, kehadiran Dhurandhar The Revenge menambah dimensi baru dalam persaingan, terutama karena film ini berhasil menarik penonton dari segmen aksi‑drama yang biasanya lebih menyukai produksi Bollywood.
Implikasi bagi Industri Perfilman Indonesia
Keberhasilan film asing yang diproduksi di luar negeri namun meraih popularitas tinggi di Indonesia mengindikasikan perubahan selera penonton. Cinema 21 dan jaringan bioskop lainnya kini dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan antara film lokal, yang biasanya menguasai pangsa pasar Lebaran, dan film internasional yang memiliki daya tarik global. Hal ini memicu strategi pemasaran yang lebih agresif, termasuk penawaran tiket bundle, promo early‑bird, serta penyesuaian jadwal tayang yang lebih fleksibel.
Produser Jio Studios, Jyoti Deshpande, menyatakan bahwa kolaborasi antara studio India dan jaringan bioskop Indonesia akan terus diperkuat, dengan harapan menciptakan sinergi yang menguntungkan kedua belah pihak. Sementara itu, eksekutif Cinema 21 menegaskan komitmen untuk menyediakan layar berkualitas tinggi, sistem suara Dolby Atmos, dan pengalaman menonton yang aman pasca‑pandemi, guna mempertahankan loyalitas penonton.
Dengan semakin terintegrasinya pasar film regional, industri perfilman Indonesia diprediksi akan mengalami peningkatan pendapatan box office secara keseluruhan. Kehadiran film seperti Dhurandhar The Revenge menjadi contoh konkret bahwa konten berkualitas tinggi dapat melampaui batas geografis, sekaligus memacu jaringan bioskop seperti Cinema 21 untuk berinovasi dalam penawaran layanan.
Ke depan, para pembuat kebijakan dan pelaku industri diharapkan akan terus memantau tren ini, memperkuat regulasi yang mendukung pertumbuhan industri, serta memastikan bahwa sinema tetap menjadi ruang utama bagi budaya dan hiburan massal di Indonesia.