Rakyatnesia – 22 Maret 2026 | Seorang selebgram yang dikenal dengan nama Emy Aghnia kembali menjadi sorotan publik setelah mengunggah sebuah video yang menampilkan cuplikan meninggalnya penyanyi Vidi Aldiano. Video tersebut dipakai sebagai materi promosi sebuah produk obat herbal yang sedang ia endorse. Langkah itu menuai kemarahan luas, tidak hanya dari para netizen, tetapi juga dari sesama figur publik seperti Deddy Corbuzier yang melontarkan kritik tajam terhadap praktik pemasaran yang dianggap tidak etis.
Emy Aghnia, yang memiliki jutaan pengikut di platform Instagram dan TikTok, awalnya dikenal sebagai influencer kecantikan dan gaya hidup. Pada awal tahun ini, ia menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan farmasi herbal yang menjanjikan manfaat kesehatan alami. Sebagai bagian dari kampanye, Emy mengunggah sebuah video pendek yang menampilkan potongan rekaman Vidi Aldiano yang beredar secara viral beberapa bulan lalu, memperlihatkan momen dramatis yang kemudian dihubungkan dengan klaim “menyelamatkan hidup” melalui konsumsi produk herbal tersebut.
Strategi Pemasaran yang Mengguncang Netizen
Strategi mengaitkan tragedi pribadi seorang publik figur dengan produk kesehatan dianggap melanggar norma etika pemasaran. Dalam video tersebut, teks overlay menuliskan, “Jangan tunggu sampai terlambat. Coba herbal kami sekarang!” Kalimat ini menimbulkan persepsi bahwa produk tersebut dapat mencegah atau mengobati kondisi yang serius, padahal tidak ada bukti klinis yang mendukung klaim tersebut. Penggunaan footage Vidi Aldiano yang sebenarnya merupakan cuplikan laporan berita tentang kecelakaan yang menewaskan temannya menambah lapisan kontroversi.
Reaksi publik mengalir deras di kolom komentar. Sebagian besar pengguna menilai langkah ini sebagai bentuk eksploitasi rasa duka, sementara sebagian lainnya mempertanyakan legalitas penggunaan rekaman berhak cipta tanpa izin. Tagar #EmyAghniaVidi dan #HerbalScandal menjadi trending di Twitter Indonesia selama lebih dari dua hari, menandakan besarnya kepedulian masyarakat terhadap isu etika influencer.
Latar Belakang Kasus Sebelumnya: Laporan Suster
Sebelum insiden terbaru ini, Emy Aghnia pernah terlibat dalam kontroversi lain yang melibatkan seorang perawat (suster) di sebuah rumah sakit swasta. Pada tahun 2023, ia menuduh seorang suster melakukan pelanggaran prosedur medis melalui postingan Instagram, yang kemudian diikuti dengan laporan resmi ke pihak kepolisian. Kasus tersebut berakhir dengan penyelidikan internal rumah sakit yang menemukan tidak ada bukti kuat untuk menegaskan tuduhan. Namun, peristiwa tersebut menambah catatan negatif pada reputasi Emy di mata sebagian publik.
Pengalaman tersebut tampaknya memengaruhi cara Emy berinteraksi dengan media dan publik. Ia sering menggunakan platform sosialnya untuk mengungkapkan pendapat yang keras dan kadang‑kala kontroversial, yang kemudian menjadi bahan perdebatan di kalangan netizen. Pola perilaku ini menimbulkan pertanyaan tentang motivasi di balik penggunaan konten sensitif untuk tujuan komersial.
Reaksi Deddy Corbuzier dan Tokoh Publik Lain
Deddy Corbuzier, yang juga aktif di dunia hiburan dan podcast, tidak tinggal diam. Dalam episode terbaru podcastnya, ia menyatakan bahwa penggunaan video Vidi Aldiano dalam konteks promosi produk herbal merupakan “ajakan main‑main” yang tidak dapat diterima. Deddy menekankan pentingnya tanggung jawab moral bagi para influencer, terutama ketika menyangkut kesehatan publik.
Selain Deddy, sejumlah dokter dan ahli farmasi mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka menegaskan bahwa klaim penyembuhan atau pencegahan penyakit melalui produk herbal harus didukung oleh data ilmiah yang terverifikasi. Tanpa bukti tersebut, promosi semacam ini dapat menyesatkan konsumen dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
Implikasi Hukum dan Etika
Menurut Undang‑Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), iklan yang menyesatkan atau memanfaatkan situasi duka orang lain dapat dikenai sanksi administratif atau pidana. Jika terbukti bahwa perusahaan herbal tersebut memang menggunakan footage tanpa izin dan menyebarkan klaim tidak berdasar, mereka dapat dikenai denda besar serta perintah penghentian iklan.
Di sisi lain, Emy Aghnia berpotensi menghadapi tuntutan ganti rugi atas pelanggaran hak cipta serta pencemaran nama baik, mengingat video Vidi Aldiano termasuk dalam konten berhak cipta. Hingga kini, perwakilan hukum dari pihak yang bersangkutan belum memberikan komentar resmi, namun sumber internal mengindikasikan bahwa proses mediasi sedang dipertimbangkan.
Pengaruh Terhadap Industri Influencer
Kasus ini menyoroti tantangan yang dihadapi industri influencer di Indonesia. Dengan pertumbuhan pesat pengguna media sosial, perusahaan semakin menggandeng selebgram untuk memasarkan produk, termasuk yang berhubungan dengan kesehatan. Namun, kurangnya regulasi yang ketat memungkinkan terjadinya praktik pemasaran yang meragukan.
Beberapa platform digital, termasuk Instagram dan TikTok, telah memperketat kebijakan terkait iklan kesehatan. Mereka menuntut verifikasi klaim medis dan melarang penggunaan konten yang menyinggung kematian atau tragedi pribadi tanpa izin. Namun, implementasi kebijakan ini masih dalam tahap pengujian, dan banyak kasus masih lolos dari pengawasan.
Respons Publik Terhadap Produk Herbal yang Dipromosikan
Setelah video kontroversial itu tersebar, penjualan produk herbal yang dipromosikan oleh Emy mengalami lonjakan sementara. Namun, dalam 48 jam berikutnya, banyak konsumen mengajukan keluhan di media sosial, menanyakan keabsahan klaim dan meminta bukti klinis. Beberapa influencer lain yang sebelumnya bekerja sama dengan merek tersebut memutuskan kontrak secara sepihak, menyatakan tidak ingin terlibat dalam kampanye yang berpotensi menyesatkan.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa konsumen kini semakin kritis terhadap iklan berbasis kesehatan. Kesadaran akan pentingnya bukti ilmiah membuat publik menolak promosi yang mengandalkan sensasi emosional semata.
Dengan segala dinamika yang terjadi, kasus Emy Aghnia menjadi pelajaran penting bagi para pelaku industri pemasaran digital. Keberhasilan kampanye tidak boleh mengorbankan integritas, terutama ketika menyangkut kesehatan dan perasaan duka orang lain. Pengawasan yang lebih ketat, transparansi klaim, serta kepatuhan pada regulasi akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik di era influencer.