Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Puti Guntur Soekarno, secara tegas menekankan pentingnya dua agenda strategis dalam pembangunan pendidikan di Jawa Timur. Agenda tersebut meliputi penguatan pendidikan karakter dan peningkatan konektivitas antara lulusan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Menurut Puti, kedua aspek ini menjadi fondasi krusial bagi para lulusan pendidikan di Jawa Timur untuk dapat bersaing secara kompetitif di kancah nasional bahkan global. Ia menggarisbawahi bahwa berbagai persoalan sosial yang kerap muncul di lingkungan pendidikan saat ini, akarnya seringkali berasal dari melemahnya pembentukan karakter bangsa. Oleh karena itu, pembangunan karakter bangsa (nation character building) harus ditempatkan sebagai arus utama dalam setiap perumusan kebijakan pendidikan, baik oleh pemerintah maupun oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
Pendidikan Karakter sebagai Akar Solusi Permasalahan Pendidikan
Puti Guntur Soekarno menyatakan bahwa banyak persoalan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, jika ditelisik lebih dalam, ternyata berakar pada lemahnya pendidikan karakter. "Sejumlah persoalan yang kita temui bermuara pada pendidikan karakter. Ini harus benar-benar kita sikapi bersama dalam kebijakan ke depan di Komisi X, baik melalui kebijakan pemerintah maupun undang-undang," tegasnya. Pernyataan ini mengindikasikan adanya kebutuhan mendesak untuk merevitalisasi dan mengintegrasikan pendidikan karakter secara sistematis ke dalam kurikulum dan praktik pendidikan sehari-hari.
Legislator yang mewakili daerah pemilihan Jawa Timur I ini kemudian memberikan pandangannya mengenai langkah-langkah konkret yang dapat diambil. Ia mendorong agar ruang-ruang pembentukan karakter di sekolah dihidupkan kembali secara sistematis. Salah satu contoh yang ia kemukakan adalah penguatan kegiatan kepramukaan. Kepramukaan, menurut Puti, memiliki potensi besar sebagai wadah pembinaan kedisiplinan dan kepemimpinan bagi para siswa. Melalui kegiatan pramuka yang terstruktur dan bermakna, siswa dapat belajar tentang tanggung jawab, kerjasama, serta pengembangan diri.
Selain kepramukaan, Puti juga menekankan pentingnya optimalisasi muatan lokal. Muatan lokal yang berbasis nilai budaya daerah dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan rasa cinta tanah air, kebanggaan terhadap identitas lokal, serta pemahaman mendalam tentang kearifan lokal. Hal ini tidak hanya memperkaya wawasan siswa, tetapi juga membentuk karakter yang berakar pada budaya bangsa. Lebih jauh, ia menyoroti penguatan pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti, dalam pandangannya, haruslah menempatkan etika sebagai fondasi utama dari seluruh proses belajar-mengajar. Etika yang baik, seperti kejujuran, sopan santun, rasa hormat, dan tanggung jawab, merupakan pilar penting dalam membentuk individu yang berakhlak mulia dan dapat diandalkan.
Peran Guru dalam Membangun Karakter Siswa
Puti Guntur Soekarno juga secara khusus menyoroti peran sentral guru dalam proses pembentukan karakter siswa. Ia berpendapat bahwa ketegasan guru dalam mendisiplinkan siswa tidak seharusnya disalahartikan atau dipersepsikan secara keliru sebagai sebuah pelanggaran hukum. Sebaliknya, tindakan disiplin yang dilakukan oleh guru harus dipahami sebagai bagian integral dan tak terpisahkan dari upaya pembinaan peserta didik. Guru, sebagai pendidik, memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk membimbing, mengarahkan, dan membentuk karakter siswa agar tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki akhlak yang baik.
Penting untuk digarisbawahi bahwa definisi "ketegasan" di sini bukanlah berarti kekerasan fisik atau verbal yang merendahkan martabat siswa. Namun, lebih kepada penerapan aturan yang konsisten, pemberian konsekuensi yang mendidik atas pelanggaran, serta pembentukan lingkungan belajar yang kondusif bagi pengembangan disiplin diri. Guru yang tegas namun bijaksana mampu menciptakan suasana belajar yang aman, tertib, dan penuh rasa hormat, di mana siswa merasa dihargai sekaligus memiliki kesadaran akan pentingnya aturan dan norma.
Konektivitas Lulusan dengan Dunia Industri: Menjawab Kebutuhan Pasar Kerja
Selain fokus pada pendidikan karakter, Puti Guntur Soekarno juga menyoroti aspek krusial lainnya, yaitu peningkatan konektivitas antara lulusan sekolah dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Di era yang serba dinamis dan kompetitif ini, lulusan pendidikan tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan akademis, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi dan berkontribusi langsung di dunia kerja. Peningkatan konektivitas ini bertujuan untuk memastikan bahwa kurikulum pendidikan relevan dengan kebutuhan industri, serta memberikan pengalaman praktis yang memadai bagi para siswa sebelum mereka memasuki dunia profesional.
Puti menyarankan agar kolaborasi antara institusi pendidikan dan DUDI dapat diperkuat melalui berbagai program. Program magang yang terstruktur dan berkualitas menjadi salah satu solusi utama. Melalui magang, siswa memiliki kesempatan untuk merasakan langsung lingkungan kerja, mempelajari budaya perusahaan, serta mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh di bangku sekolah dalam konteks nyata. Selain itu, pelatihan keterampilan spesifik yang disesuaikan dengan kebutuhan industri juga perlu digalakkan. Kerjasama dalam pengembangan kurikulum, di mana DUDI memberikan masukan mengenai kompetensi yang dibutuhkan, juga dapat membantu menyelaraskan output pendidikan dengan permintaan pasar kerja.
Lebih lanjut, Puti mengusulkan agar sekolah dapat menjalin kemitraan yang lebih erat dengan asosiasi industri, kamar dagang, dan pelaku usaha lainnya. Kemitraan ini dapat memfasilitasi berbagai kegiatan, mulai dari kunjungan industri, seminar karir yang menghadirkan praktisi, hingga program rekrutmen yang lebih terarah bagi lulusan. Dengan demikian, transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja dapat berjalan lebih mulus, mengurangi angka pengangguran, dan meningkatkan daya saing tenaga kerja lulusan Jawa Timur.
Strategi Penguatan Pendidikan Karakter dan Konektivitas Lulusan
Untuk mencapai tujuan penguatan pendidikan karakter dan peningkatan konektivitas lulusan dengan DUDI, diperlukan strategi yang komprehensif dan terpadu.
- Revitalisasi Kurikulum Berbasis Karakter: Integrasi nilai-nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kemandirian, dan kerja sama harus menjadi bagian integral dari setiap mata pelajaran. Pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa agar tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku dan sikap positif siswa.
- Penguatan Peran Guru sebagai Pendidik Karakter: Pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru harus mencakup aspek-aspek pedagogi karakter. Guru perlu dibekali dengan pemahaman mendalam tentang cara menanamkan nilai-nilai moral, mengelola kelas secara efektif, serta menjadi teladan yang baik bagi siswa.
- Optimalisasi Ekstrakurikuler dan Muatan Lokal: Kegiatan kepramukaan, organisasi siswa, klub minat, serta pembelajaran muatan lokal yang berfokus pada nilai budaya dan etika harus dihidupkan kembali dan dioptimalkan. Kegiatan-kegiatan ini merupakan arena yang sangat baik untuk praktik dan internalisasi nilai-nilai karakter.
- Pengembangan Kemitraan Kuat dengan DUDI: Sekolah perlu aktif membangun dan memelihara hubungan baik dengan dunia usaha dan industri. Hal ini meliputi:
- Program Magang Berkualitas: Memastikan program magang relevan, terstruktur, dan memberikan pengalaman belajar yang berharga bagi siswa.
- Penyelarasan Kurikulum: Melibatkan DUDI dalam penyusunan dan evaluasi kurikulum untuk memastikan relevansi dengan kebutuhan pasar kerja.
- Pelatihan Keterampilan Vokasi: Mengembangkan program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik industri, termasuk keterampilan digital dan teknologi terkini.
- Job Fair dan Rekrutmen Terpadu: Memfasilitasi pertemuan antara lulusan dengan calon pemberi kerja melalui acara job fair dan program rekrutmen yang terintegrasi.
- Pemanfaatan Teknologi dalam Pendidikan: Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran karakter, misalnya melalui platform digital yang menyajikan materi etika dan simulasi perilaku. Selain itu, teknologi juga krusial dalam menjembatani komunikasi antara sekolah dan DUDI, serta dalam penyediaan informasi lowongan kerja.
- Evaluasi dan Monitoring Berkelanjutan: Sistem evaluasi yang komprehensif perlu dikembangkan untuk mengukur keberhasilan program penguatan karakter dan konektivitas lulusan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar untuk perbaikan dan penyesuaian kebijakan di masa mendatang.

Dengan memprioritaskan penguatan pendidikan karakter dan peningkatan konektivitas lulusan dengan dunia industri, Puti Guntur Soekarno meyakini bahwa sistem pendidikan di Jawa Timur akan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki integritas moral yang tinggi, berdaya saing, dan siap berkontribusi secara optimal bagi pembangunan bangsa dan negara. Langkah ini merupakan investasi jangka panjang yang akan membawa dampak positif bagi kemajuan Jawa Timur dan Indonesia secara keseluruhan.
Sumber: rakyatnesia.com