Kang Yoto Bacakan Ikrar Bela Negara, dihadapan Wapres Jusuf Kalla dan Ribuan Warga Bojonegoro

0 67

BOJONEGORO (Rakyat Independen)- Apel Besar Bela Negara di gelar di Stadion Letjen sudirman Jl Lettu Soewolo Bojonegoro, Selasa (17/5/2016). Dalam kegiatan itu, bertindak sebagai inspektur upacara Wakil Presiden (Wapres) RI HM. Jusuf Kalla.

Apel besar bela Negara itu, dihadiri oleh sejumlah pejabat negara, seperti Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo, Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan para pejabat lainnya.

Termasuk, para pejabat pemerintah dan rakyat Bojonegoro dari 418 desa dan 11 kelurahan yang berada di 28 kecamatan, turut serta bersama-sama membacakan Ikrar Merah Putih dan kesetiaan bernegara.

Hadir dalam kegiatan itu, para pejabat di Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, TNI dan Polri, guru, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), mahasiswa, pelajar, dan perwakilan masyarakat. Para peserta Apel Akbar Bela Negara akan tumpah-ruah memadati stadion yang diperkirakan berjumlah 15 ribu orang itu.

Acara diawali dengan sambutan Bupati Bojonegoro Suyoto. Dalam sambutanya, Kang Yoto –demikian Bupati Bojonegoro Suyoto, biasa disapa- membacakan deklarasi bela Negara dihadapan Wapres HM. Yusuf Kalla dan ribuan warga Bojonegoro.

Deklarasi Bela Bangsa itu, terdapat 7 (tujuh) item, diantaranya, tentang ketahanan energi. Dimana, Kabupaten Bojonegoro merupakan daerah penyumbang minyak nasional sebesar 20 persen yang berasal dari Lapangang Banyuurip Blok Cepu.

“Bagi hasil dari migas tidak harus kita habiskan saat ini, akan tetapi perlu kita simpan juga untuk anak cucu kita. Karena kita ingin 20 hingga 30 tahun mendatang, hasil migas akan bisa dinikmati masyarakat Bojonegoro yang tersimpan dalam bentuk dana abadi,” tegas Kang Yoto.

Lebih lanjut disampaikan, dana abadi itu merupakan strategi menyimpan dana bagi hasil migas sehingga ini merupakan bentuk ketahanan energi. Sebuah cara mempertahankan energi bagi anak negeri. Sehingga makna bela negera disini adalah membela hak-hak anak cucu kita, agar ke depan mereka masih bisa menikmati bagi hasil migas yang diterima Bojonegoro ini.

Selain Ketahanan Energi, Bojonegoro juga diharapkan bisa melakukan Revolusi Mental, dari masyarakat yang suka meminta menjadi mental pemberi. Karena menjadi pemberi justru akan mendatangkan banyak manfaat bagi proses pembangunan yang ada di Kabupaten Bojonegoro ini.

Sedangkan, untuk Ketahanan Bencana. Bojonegoro yang dikenal sebagai daerah langganan banjir, di saat hujan kebanjiran dan di musim kemarau kondisi panas dan gersang. Dari kondisi tersebut, Bojonegoro perlu memanfaatkan aliran sungai Bengawan Solo yang melintasi Kabupaten Bojonegoro itu untuk kepentingan pengairan pertanian dan lain sebagainya.

“Kita manfaatkan Bengawan solo dan meminimalisir banjir luapan Bengawan Solo itu. Pada setiap banjir tiba, saya secara terus-menerus menginformasikan ketinggian air kepada masyarakat melalui sosial media (sosmed) baik BBM, SMS, WA dan dibantu semua media massa yang ada juga ikut meninformasikan melalui tulisannya, sehingga masyarakat dapat melakukan antisipasi dengan cepat, sehingga bisa mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh banir itu,” ujarnya.

Sejak tahun 2010 silam, Kabupaten Bojonegoro telah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten yang Suistanable Development. Berbagai upaya dilakukan, diantaranya dengan membangun sanitasi yang baik bagi warga, menanam sejuta pohon untuk kelanjutan lingkungan yang lebih baik. Bagi Bojonegoro membangun sebuah kabupaten yang minim fasilitas merupakan sebuah tantangan.

Program Bojonegoro adalah membangun tata kelola pemerintahan desa yang baik. Dari aparatur desa, pelayanan kepada masyarakat hingga partisipasi masyarakat. Maka dicanangkan Gerakan Desa Sehat dan Cerdas. Program ini benar-benar menyasar kepada pengelolaan desa dan partisipasi masyarakat.

Open Goverment Partnership, salah satunya dengan melakukan dialog publik tiap hari Jumat. Dialog ini, merupakan upaya transparansi dalam tata kelola pemerintahan. Awalnya adalah Kang Yoto membuka layanan SMS untuk masyarakat. Ponsel pribadi Kang Yoto bisa menerima ribuan keluhan dari masyarakat. Dari banyaknya SMS yang masuk itu, kemudian dilembagakan menjadi dialog publik yang dialaksanakan setiap hari Jumat siang.

Kabupaten Bojonegoro, juga mendapat predikat Human Rights City atau sebagai Kota Ramah Hak Asasi Manusia (HAM), oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 11 Desember 2015 lalu. Kabupaten ini termasuk 138 kabupaten/kota, dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia yang dinilai ramah HAM. **(Kis/David).

Leave a comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More