Bitcoin Meroket di Tengah Konflik Geopolitik: Kripto Cetak Level Tertinggi Sebulan

26 Likes comments off
Bitcoin Meroket di Tengah Konflik Geopolitik: Kripto Cetak Level Tertinggi Sebulan

Rakyatnesia – 19 Maret 2026 | Jakarta, 19 Maret 2026 – Pasar aset digital kembali menjadi sorotan utama setelah serangkaian peristiwa geopolitik memicu pergerakan harga yang signifikan. Bitcoin (BTC), mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, berhasil menembus level tertinggi dalam satu bulan terakhir, sementara sejumlah altcoin menunjukkan pola yang beragam. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memengaruhi sentimen investor global.

Pergerakan Harga Bitcoin dan Altcoin pada Minggu Terakhir

Data yang dirilis pada 19 Maret 2026 menunjukkan bahwa Bitcoin mengalami penurunan 4,06% dalam 24 jam terakhir, berakhir pada USD 70.987,49. Meskipun demikian, dalam rentang waktu satu minggu, harga BTC tetap menguat, mencatat kenaikan sekitar 6,29% dan berada pada level USD 74.019 pada akhir perdagangan Rabu sore. Kapitalisasi pasar Bitcoin mencapai sekitar USD 1,42 triliun.

Baca juga:
Harga Emas Turun Drastis Menjelang Lebaran 2026: Antam, Pegadaian, dan Pasar Spot Merosot

Ethereum (ETH) tidak dapat mengikuti jejak Bitcoin; harga ETH turun 5,96% menjadi USD 2.189,61, dengan kapitalisasi pasar USD 264,26 miliar. Altcoin lain seperti Binance Coin (BNB) dan Solana (SOL) juga mengalami penurunan masing-masing 4,09% (USD 650,99) dan 4,91% (USD 90,06). Di sisi lain, Dogecoin (DOGE) dan Hyperliquid (HYPE) mencatat kenaikan kecil, masing-masing 0,21% (USD 0,09503) dan 0,49% (USD 41,46).

Pengaruh Konflik Geopolitik terhadap Sentimen Pasar

Sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026, Bitcoin telah menjadi “oasis ketenangan” bagi investor yang mencari alternatif dari pasar saham, emas, dan minyak yang bergejolak. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 40% dalam bulan yang sama, sementara harga emas turun sekitar 5% dan indeks MSCI World tertekan 4%.

Para analis menilai bahwa peningkatan permintaan institusional terhadap Bitcoin, khususnya melalui dana yang diperdagangkan di bursa (ETF), menjadi salah satu pendorong utama. Rachael Lucas, analis di BTC Markets, menjelaskan bahwa “ketahanan Bitcoin bukan sekadar narasi, melainkan mekanisme pasar yang mengalirkan likuiditas ke aset digital ketika risiko geopolitik meningkat.”

Data Harga Kripto Terkini

Koin Harga (USD) Perubahan 24 jam Kapitalisasi Pasar (USD)
Bitcoin (BTC) 70,987.49 -4.06% 1.42 Triliun
Ethereum (ETH) 2,189.61 -5.96% 264.26 Miliar
Binance Coin (BNB) 650.99 -4.09% 88.76 Miliar
Solana (SOL) 90.06 -4.91% 51.46 Miliar
TRON (TRX) 0.3038 -1.54% 28.79 Miliar
Dogecoin (DOGE) 0.09503 +0.21% 14.58 Miliar
Hyperliquid (HYPE) 41.46 +0.49% 10.65 Miliar
Tether (USDT) 1.00 0.00% 184.108 Miliar

Stabilcoin seperti USDC dan USDT tetap berada di kisaran nilai nominalnya, memberikan alternatif perlindungan nilai bagi investor yang menghindari volatilitas tinggi.

Faktor-Faktor Pendukung Kenaikan Bitcoin

  • Arus masuk ETF Bitcoin Spot: Selama bulan Maret, dana yang diperdagangkan di bursa mencatat aliran masuk bersih yang signifikan, memperkuat likuiditas pasar.
  • Sentimen “Safe Haven”: Ketegangan di Timur Tengah meningkatkan persepsi bahwa aset digital dapat berfungsi sebagai penyimpan nilai alternatif.
  • Penurunan alternatif tradisional: Penurunan harga emas dan tekanan pada indeks saham global membuat investor mencari diversifikasi.

Meski Bitcoin berhasil menembus angka psikologis USD 75.000 pada 17 Maret 2026, harga mengalami koreksi minor sebesar 0,29% pada perdagangan berikutnya. Namun, secara kumulatif sejak akhir Februari, Bitcoin telah naik hampir 14%, menandakan pemulihan yang kuat setelah kejatuhan tajam pada Oktober 2025 yang menurunkan nilai kripto tersebut hingga setengah dari puncaknya di atas USD 126.000.

Baca juga:
Serangan Iran Guncang Pasokan LNG Qatar, India Terancam Krisis Energi

Proyeksi dan Risiko Kedepannya

Para pengamat memperingatkan bahwa volatilitas tetap tinggi, terutama jika konflik geopolitik bereskalasi atau terjadi perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat. Di sisi lain, peningkatan regulasi yang mengizinkan lebih banyak produk investasi berbasis kripto, seperti ETF spot, dapat memperluas basis investor institusional.

Jika tekanan pada pasar energi dan ketidakpastian geopolitik terus berlanjut, Bitcoin diperkirakan dapat kembali menguji level di atas USD 80.000 dalam kuartal berikutnya. Namun, faktor-faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga Federal Reserve atau resolusi diplomatik dapat menyebabkan koreksi kembali ke zona USD 70.000.

Secara keseluruhan, kripto kini berada di persimpangan antara aset spekulatif dan instrumen lindung nilai. Bitcoin, sebagai pemimpin pasar, menunjukkan kemampuan adaptasi yang kuat di tengah ketidakpastian global, sementara altcoin lain masih berjuang menemukan arah yang jelas. Investor disarankan untuk memantau perkembangan geopolitik, arus dana ETF, serta kebijakan moneter sebagai indikator utama pergerakan harga ke depan.

You might like

About the Author: divan

Seorang penulis di kanal sepakbola, menyukai sepakbola sejak puluhan tahun lalu. Dan gemar menulis artikel bola sejak tahun 2014 sampai sekarang.