Noken Papua, Warisan Budaya Mendalam Warga Papua

18

Hari ini 4 Desember 2020 Google menampilkan sebuah doodle Noken Papua sebagai pengakuan tas tradisional masyarakat Papua tersebut, dan masuk dalam warisan budaya Dunia oleh UNESCO pada 20212 silam. Noken merupakan tas tradisional masyarakat Papua. Biasanya, noken terbuat dari serat kayu, daun, atau batang anggrek, yang dibuat dengan cara dianyam atau dirajut.

Kemendikbud menyebut, di Papua, kemahiran seorang perempuan merajut noken dianggap sebagai tanda kedewasaan. Namun bagi masyarakat Papua, noken bukan hanya sekadar tas untuk membawa barang-barang sehari-hari, melainkan memiliki nilai yang diajarkan oleh nenek moyang masyarakat Papua lintas generasi.

Dalam sebuah diskusi yang digelar pada November 2019, ketua Yayasan Noken Papua, Titus Christoforus Pekei menyebut awalnya noken merupakan benda yang kerap dipandang remeh.

“Kita harus kembali mendalami ilmu noken ini. Noken mengajarkan kita tentang berbagi, demokrasi, dan kebenaran,” kata Titus kala itu, mengutip laman Kemendikbud.

Atas berbagai nilai yang terkandung dalam noken Papua, kerajinan tangan masyarakat tersebut kemudian diajukan menjadi warisan budaya ke Badan PBB untuk urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya atau UNESCO.

Pengajuan tersebut pun disetujui. Pada 4 Desember 2012, noken ditetapkan sebagai warisan budaya dunia takbenda oleh UNESCO di Paris, Prancis, bersama dengan sejumlah warisan budaya lainnya dari Kyrgyzstan, Uganda, dan Bostwana.

Baca juga : Daftar Libur Bulan Desember 2020, Tanggal 9 Libur Loh (rakyatnesia.com)

Oleh UNESCO, noken digolongkan dalam kategori “in Need of Urgent Safeguarding” atau warisan budaya yang membutuhkan perlindungan mendesak.

“Noken adalah jaring rajutan atau tas anyaman buatan tangan dari serat kayu atau daun oleh masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat, Indonesia,” tulis UNESCO dalam pengumuman penetapan.

“Digunakan untuk membawa hasil bumi, tangkapan, kayu bakar, bayi, atau binatang kecil, serta untuk berbelanja dan menyimpan barang-barang di rumah, noken juga bisa dikenakan atau diberikan sebagai persembahan perdamaian,” lanjut UNESCO.

“Namun, jumlah orang yang membuat dan menggunakan Noken berkurang dalam menghadapi persaingan dari tas buatan pabrik dan masalah dalam memperoleh bahan baku.” tulis UNESCO.

Sementara itu, mengingat berbagai faktor yang mengancam kelestarian noken Papua, Titus berharap museum noken di Jayapura segera terwujud supaya bisa menjadi tempat belajar masyarakat terkait noken, terutama bagi generasi muda. Bukan hanya itu, Titus berharap noken bisa menjadi muatan lokal di berbagai sekolah di Papua.

Sejarah Noken Papua

Filosofi noken

Tas noken ini sendiri asli buatan mama-mama di Papua.

Tas tradisional Noken memiliki simbol kehidupan yang baik, perdamaian, dan kesuburan bagi masyarakat di tanah Papua terutama kebanyakan di daerah Pegunungan Tengah Papua seperti suku Mee/Ekari, Damal, Suku Yali, Dani, Suku Lani dan Bauzi.

Karena jika perempuan papua belum bisa membuat Noken dia tidak dianggap dewasa dan itu merupakan syarat untuk menikah.

Noken dibuat karena suku-suku di Papua membutuhkan wadah yang dapat memindahkan barang ke tempat yang lain.

Noken terbuat dari bahan baku kayu pohon Manduam, pohon nawa atau anggrek hutan dan masih banyak lagi jenis pohon yang umum digunakan.

Masyarakat Papua biasanya menggunakan Noken untuk bermacam kegiatan, Noken yang berukuran besar (disebut Yatoo) dipakai untuk membawa barang seperti kayu bakar, tanaman hasil panen, barang-barang belanjaan, atau bahkan digunakan untuk menggendong anak. yang berukuran sedang (disebut Gapagoo) digunakan untuk membawa barang-barang belanjaan dalam jumlah sedang, dan yang berukuran kecil (disebut mitutee) digunakan untuk membawa barang-barang pribadi.

Baca juga : Percaya Dengan Makhluk Halus, Artis Rizky Billar Ungkap Kejadian Begini di… (rakyatnesia.com)

Keunikan Noken juga difungsikan sebagai hadiah kenang-kenangan untuk tamu yang biasanya baru pertama kali menginjakkan kaki di bumi Papua dan dipakai dalam upacara.

Membuat Noken cukup rumit karena menggunakan cara manual dan tidak menggunakan mesin.

Kayu tersebut diolah, dikeringkan, dipilah-pilah serat-seratnya dan kemudian dipintal secara manual menjadi tali/benang.

Variasi warna pada noken dibuat dari pewarna alami.

Proses pembuatannya bisa mencapai 1-2 minggu, untuk noken dengan ukuran besar, bisa mencapai 3 minggu bahkan sampai 2-3 bulan, tergantung prosesnya.

Di daerah Sauwadarek, Papua, masih bisa kita temukan pembuatan noken secara langsung. Harga noken disana relatif murah, antara Rp 25 ribu – Rp 50 ribu per buah tergantung jenis dan ukurannya.

Noken dibuat oleh orang perempuan Papua asli dan hanya merekalah yang berhak membuatnya, perempuan yang menguasai pembuatan Noken menunjukkan bahwa ia telah dewasa. Jika sudah dianggap dewasa, maka perempuan Papua barulah boleh menikah.

Multifungsi

Tas noken ini sendiri memiliki ukuran yang bervariasi, bahkan ada yang berukuran besar yang biasa dipakai oleh mama-mama yang bekerja sebagai petani dan mampu mengankat bahan hasil bumi yang cukup berat dengan menggunakan tas noken ini.

Uniknya lagi ini digunakan dengan memakai jidat atau bagian depan kepala mereka dengan mengalungkannya ke arah belakang punggung mereka.

Untuk tas noken yang berukuran kecil biasa dipergunakan oleh siswa-siswa pelajar asli putra-putri daerah Papua untuk dipergunakan sebagai tempat buku dan keperluan belajar di bangku sekolah maupun di kampus.

Dan selebihnya lagi biasanya tas Noken ini oleh pendatang yang biasa berkunjung ke Papua sebagai bahan oleh-oleh yang dibawah kedaerah masing-masing sebagai hiasan atau oleh-oleh bagi sanak keluarga mereka dikarenakan tas tersebut terlihat unik dipandang mata.
Noken merupakan kerajinan tangan khas Papua berbentuk seperti tas.

Ada 250 etnis dan bahasa di Papua, namun semua suku memiliki tradisi kerajinan tangan noken yang sama.

Fungsi noken sangat beragam.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More