Amerika Serikat Bantah Kesepakatan Damai 5 Hari antara Israel dan Hamas

Panjoel Kepo

Bagikan

rakyatnesia.com – Amerika Serikat menyangkal adanya kesepakatan damai selama lima hari antara Israel dan Hamas yang dikabarkan telah dimediasi oleh Washington.

Adrienne Watson, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, menegaskan bahwa hingga saat ini belum tercapai kesepakatan antara Israel dan Hamas untuk mengakhiri konflik di Jalur Gaza, Palestina, yang telah berlangsung sejak 7 Oktober lalu.

“Belum ada kesepakatan, tapi kami terus bekerja keras untuk mencapainya,” kata Watson dalam pernyataannya di X pada Sabtu (18/11) malam, seperti dilaporkan oleh AFP.

Pernyataan Watson ini datang sebagai tanggapan terhadap laporan Washington Post yang menyebut bahwa Israel dan Hamas telah setuju untuk mencapai kesepakatan damai selama lima hari sebagai imbalan atas pembebasan puluhan sandera.

Baca Juga  100 Hari Perang di Gaza: PBB Sebut Ini Menodai Kemanusiaan Bersama

Media AS itu menyebut perjanjian enam halaman yang ditengahi Amerika Serikat dan Qatar menuliskan bahwa semua pihak yang terlibat konflik akan membekukan operasi setidaknya lima hari. Pada saat bersamaan, 50 atau lebih sandera akan dibebaskan setiap 24 jam.

Menurut orang-orang yang mengetahui kesepakatan itu, ‘perdamaian’ itu dimulai dalam beberapa hari ke depan, jika tidak ada hambatan di waktu-waktu terakhir.

Jeda pertempuran ini juga disebut dimaksudkan untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan, termasuk bahan bakar, memasuki Gaza lewat Mesir.

Baca Juga  Israel Pertimbangkan Banjiri Terowongan Hamas: Dua Risiko Besar yang Mungkin Terjadi

Seorang juru bicara Kedutaan Besar Israel di Washington mengatakan pada Sabtu (18/11) malam bahwa pihaknya tak akan berkomentar mengenai aspek apa pun terkait situasi penyanderaan.

Sejak Israel meluncurkan agresi 7 Oktober lalu, lebih dari 100 negara, kecuali AS, menyerukan gencatan senjata penuh dan segera di Gaza. Desakan ini dilontarkan seiring dengan meningkatnya kekhawatiran akan nasib para tawanan dan banyaknya korban sipil yang berjatuhan di Palestina.

Menurut seseorang yang mengetahui situasi, kesepakatan jeda sementara ini pada dasarnya sulit diterima oleh Israel. Pasalnya, meski ada tekanan di dalam negeri yang menuntut Perdana Menteri Netanyahu memulangkan para sandera, ada pula suara-suara lantang yang meminta pemerintah tidak melakukan barter untuk pembebasan mereka.

Baca Juga  Kontribusi Indonesia dalam Resolusi Gencatan Senjata Gaza di PBB

Dalam pernyataan publik, Israel pun berulang kali menegaskan tak akan pantang menyerah untuk menggempur Gaza meski ditekan sedemikian rupa oleh komunitas internasional.

Pada Sabtu (18/11), Netanyahu berapi-api menyatakan bakal terus melanjutkan serangan di Gaza untuk mencapai tujuan mereka.

Serangan brutal Israel di Gaza sejauh ini telah menewaskan 12.300 orang, dengan lebih dari 5.000 di antaranya merupakan anak-anak.

Bagikan

Panjoel Kepo

Wartawan Media berpengalaman dari Kota Soto Lamongan, Lihai menulis berbagai macam informasi, mulai dari olahraga, entertainment, Musik dunia viral media sosial dan berbagai macam lainnya.

Related Post