Nyaleg

0 328

Mukidi dan Mukini mendadak menjadi manusia super ramah. Ke mana pun pergi, di mana pun berada, kapan pun bersimpuhan, bertatapan, berjumpa manusia yang lainnya. Terus menebar sapa. Terus menebar senyum. Terus menanya kabar kesehatan, kabar sawah, kabar kerbau, sapi, bebek, ayam hingga ingon-ingon lain yang tak penting.

Orang-orang gembira, orang-orang bersyukur, orang-orang takjub dan bungah, dengan perubahan perangai, tabiat serta kelakuan Mukidi dan Mukini. Memperoleh hidayah, kata orang. Sudah tobat, ujar tetangga. Mulai paham, bahwa dan manusia membutuhkan manusia lainnya, komentar kawannya.

Mukidi dan Mukini memang super duper sibuknya untuk merubah citranya, imagenya, brandingnya. Mereka berusaha seluruh, semua, segalanya, menjadi indah, menjadi mempesona, menjadi magnit atas semua magnit kebaikan.

Mendadak (pula) kutipan, nukilan, comotan beragam kalimat tauhid, dengan mudah meluncur dengan enak, dengan renyah, dengan indah dari mereka. Pokokmen, tiada kedelai terbaik dari kecap, kecuali Mukidi dan Mukini. Yang ujungnya, hanya merekalah yang paling layak dipercaya, untuk menjadi wakilnya rakyat.

Di sebuah berita, beberapa waktu silam, disebut bahwa gaji seorang wakil rakyat untuk Bojonegoro, besarnya Rp 37 juta/bulan. Pasti, wowww sekali bukan? Bandingkan saja dengan standard UMR, bisa lebih dari 10x-nya.

Tak heran, jika kemudian, bertebaranlah mode dan metode seperti yang dilakukan Mukidi dan Mukini. Tersebab, banyak yang ngincer (plus ngiler), untuk menjadi (dan terpilih), sebagai wakil rakyat. Kapan lagi, jika tidak kini?

Ya, memang kesempatan menjadi wakil rakyat adalah hak tiap warga Negara. Yang diberikan oleh sebuah sistem bernama demokrasi. Sehingga wajar bila masyarakat jenis Mukidi dan Mukini kemudian antre berbondong-bondong ngurus surat kelakuan baik. Layaknya, juga yang dilakukan ribuan pendaftar calon pegawai negeri sipil.

Demi sukses hajatnya, Mukidi dan Mukini (lantas) menjadi aktif (dan rajin) hadir dalam arisan di desanya, dalam pertemuan lingkungannya, dalam jadwal ronda kampungnya, dalam reuni sekolahannya –mulai taman kanak-kanak hingga taman kawak-kawak.

Budaya kejut (culture shock) yang diproyeksikan Kalvero Oberg pada tahun 1954 –dan juga Michael Winkelman, benar-benar berwujud nyata. Teknologi digital menjadi pengantar yang paling sahih, yang tidak terelakkan (lagi). Gagap dan gugup kemudian menjadi wabah untuk (dengan) mudah terpesona dan mempesona. Meski sekejapan sifat dan bentuknya. Karena (memang) hanya sebatas gelaran acara, yang berlabel pemilihan legislatif.

Sebentar lagi pasti bertebaran gambar-gambar kampanye, dari Mukidi dan Mukini –dan yang serupa mereka. Rakyat disodori pilihan pada masing-masing daerah pilihannya. Yang jumlahnya (dipastikan) puluhan. Yang semuanya telah sama-sama berikrar, siap dipilih sebagai wakilnya rakyat.

Budaya lima tahunan ini, adalah sebuah pembelajaran bagi rakyat (pemilih). Agar tidak sekadar anut grubyug (saja), melainkan mampu melakukan pilihan secara bijak dan arif. Agar tidak mengulang-ulang kesalahan yang sama, yang telah dilakukan lima tahun silam. Adalah keledai jika terus terjerumus pada lubang yang sama, bukan?

Anda, Saya dan Kita, adalah pewaris zaman dan pelaku kebudayaan. Pilihan (apa pun) saat kini, percayalah itu sangat berpengaruh besar pada kehidupan anak-cucu, kelak. Bukan sekadar kepuasan diri sendiri : saat ini. Apa lagi (hanya) demi selembar dua lembaran duwit yang (sengaja) diiming-imingkan guna menggoyahkan pilihan –saat coblosan.

Anda, Saya dan Kita, marilah menjadi lebih pintar, menjadi lebih dewasa, menjadi lebih hati-hati dalam berdemokrasi. Sebagai sebuah tatanan di Negara Pancasila. (Arieyoko).

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More