PSHT Ranting Baureno Gelar Tasyakuran dan Temu Kadang, Sambil Nonton Pagelaran Wayang Kulit

0 602

BOJONEGORO (RAKYAT INDEPENDEN) – Ribuan warga PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) dan masyarakat di wilayah Kecamatan Baureno dan sekitarnya, yang membanjiri halaman Sekterariat Ranting PSHT Baureno, yang berada di Dusun Talun, Desa Blongsong, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur, Sabtu (20/10/2018) malam.

Malam itu, digelar Malam Tasyakuran dan temu kadang warga PSHT dengan menggelar wayang kulit semalam suntuk dengan menampilkan Dalang Ki Hadi Sukoco dari Banjarjo, Bojonegoro dengan mengambil lakon Bubak Alas Wonomarto.

Ketua Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Bojonegoro Wahyu Subagdiono, dalam kata sambutanya, PSHT Bojonegoro menjadi Cabang PSHT Madiun. Menurutnya, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia, secara resmi menyatakan dengan sah secara hukum R. Murdjoko, sebagai Ketua Umum PSHT dan berpusat di Kabupaten Madiun.

“Kemenkumham RI telah menetapkan bahwa PSHT yang berpusat di Madiun dengan Ketua umum (Ketum) Mas Murdjoko telah sah dan Berbadan Hukum. Jadi tidak ada lagi, organisasi lain yang mengaku-ngaku sah secara hukum,” tegas pria yang akrab disapa Mas Wahyu itu, dihdapan ribuan Keluarga besar PSHT Ranting Baureno, Sabtu (20/10/2018) malam.

Pria yang dipercaya menjabat sebagai Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Cabang Bojonegoro itu, mengungkapkan bahwa sejarah mencatat jika cikal bakal PSHT di Kabupaten Bojonegoro ini, diawali dari wilayah Kecamatan Baureno, dengan perjuangan para sesepuhnya saat itu.

PSHT Ranting Baureno Gelar Tasyakuran dan Temu Kadang, Sambil Nonton Pagelaran Wayang Kulit 1
Ketua Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Bojonegoro Wahyu Subagdiono, bersama undangan saat mengikuti acara Malam tasyakuran dan temu kadang warga PSHT dengan menggelar wayang kulit semalam suntuk, di halaman Sekterariat Ranting PSHT Baureno, yang berada di Dusun Talun, Desa Blongsong, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur, Sabtu (20/10/2018) malam.

“Dulu itu awalnya dari sini (Ranting Baureno, red) menjadi awal berdirinya PSHT Bojonegoro dengan pelatihnya Mas Sriyanto. Babat dalan (membuka jalan) memang sangat berat dan sulit dan banyak rintangan dan cobaan. Namun, Mas Sriyanto dengan sabar dan telaten terus memasyarakatkan PSHT. Walaupun hanya ada 2 (dua) warga yang berhasil disahkan kala itu,” ujar Mas Wahyu, mengenang perjuangan masuknya PSHT di Bojonegoro itu.

Senada, dengan apa yang disampaikan Wahyu Subakdiono, hal itu juga dibenarkan oleh Sriyanto yang menjadi orang pertama yang mendirikan PSHT di Bojonegoro, melalui kegiatan latihan PSHT di wilayah Kecamatan Baureno itu.

Pria yang terakhir menjabat sebagai guru SMKN 2 Bojonegoro itu menambanhkan, dirinya pertama kali membuka latihan sejak tahun 1979 silam. Dalam mengajarkan pencak silat PSHT di Baureno saat itu, butuh perjuangan dengan kerja keras dan banyak juga rintangan dan cobaan yang harus dilalui.

“Saya mulai silat PSHT di Baureno sejak tanggal 6 Januari tahun 1979. Tangal, bulan tahun itu, saya pertama kalinya membuka latihan di Baureno. Ketika itu cobaannya lumayan berat, karena SH Terate itu, belum dikenal di Baureno ini,” jelas pria yang akrab disapa Pak Sri itu, sambil mengenang.

Sriyanto, bahkan menceritakan bagaimana ketika itu sempat ditantang oleh sejumlah pendekar setempat untuk adu ilmu di atas panggung.

PSHT Ranting Baureno Gelar Tasyakuran dan Temu Kadang, Sambil Nonton Pagelaran Wayang Kulit 2
Sesepuh PSHT Bojonegoro Sriyanto saat menyerahkan wayang kulit ke Dalang Ki Hadi Sukoco, menandai dimulainya Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk, di acara Malam tasyakuran dan temu kadang warga PSHT dengan menggelar wayang kulit semalam suntuk, di halaman Sekterariat Ranting PSHT Baureno, yang berada di Dusun Talun, Desa Blongsong, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur, Sabtu (20/10/2018) malam.

“Bagi saya Itu adalah bagian dari cobaan karena sepiro gedhene sengsara yen tinampa amung dadi coba. Karena masalah itu, membuat saya harus diperiksa Polisi dan sempat menginap di Sel Tahanan Mapolsek Baureno,” tuturnya.

Dari buka latihan tahun 1979 tersebut, lanjutnya, akhirnya pada tahun 1983 hanya ada 2 siswa yang berhasil disahkan menjadi warga PSHT. Keduanya yaitu, Muntholib dan Laksamana Pertama Sidiq Mustofa yang hingga kini tetap mengabdi di PSHT yang berpusat di Madiun.

“Sejak dimulai tahun 1979 silam dan di tahun 1983 ada 2 siswa yang disahkan menjadi warga PSHT. Di tahun 2018 ini, ada seitr 40 ribuan warga PSHT yang tersebar Se-Cabang Bonegoro dengan Pusat Madiun. Semoga hal itu bisa menjadi berkah dan selalu kita semua selalu dalam ridlo Allah SWT,” kata Pak Sri dengan penuh harap.

Berdasarkan pantauan rakyatnesia.com menyebutkan, selain Ketua Cabang PSHT Bojonegoro Wahyu Subakdiono beserta seluruh pengurusnya, tampak hadir, Ketua Dewan Pertimbangan Cabang PSHT Bojonegoro Suwarno, beserta anggota Dewan Pertimbangan Sutrisno.

Kepada para awak media mereka menyampaikan apresiasi atas kerja Ranting PSHT Baureno yang berhasil melaksanakan kegiatan sebesar dan semegah ini.

“Terima kasih atas partisipasi seluruh keluarga besar SH Terate Ranting Baureno, yang berda di bawah naungan Cabang Bojonegoro, Pusat Madiun ini,” kata Ketu PSHT Ranting Baureno Ainul Taufiq saat ditemui di sela-sela acara tasyakuran dan temu kadang warga PSHT terebut.

Dirinya juga menyampaikan ucapan terima kasih hadirnya kadang sepuh pengesahan tahun 80-an silam, yang menyempatkan hadir untuk hadir dalam acara tersebut.

**(Kis/Red).

Leave a comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More