Meriah, Grebeg Berkah Jonegaran di Hari Jadi Bojonegoro Ke-339

0 130

BOJONEGORO (Rakyat Independen)- Grebeg berkah Jonegaran merupakan rangkaian acara Hari Jadi Bojonegoro (HJB) Ke-339 Tahun 2016 ini. Kegiatan dilaksanakan di Alun-alun Bojonegoro, Rabu (19/10/2016). Ribuan warga Bojonegoro, menyaksikan Grebeg berkah dan ‘tumplek blek’ di Alun-alun yang berada di depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro Jl Mas Tumapel No.01 Bojonegoro itu.

Sebelum acara Grebeg Berkah Jonegaran berlangsung di Alun- alun Kota, Bupati Bojonegoro Suyoto beserta Forpimda (Forum Pimpinan Daerah) dan Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) Kabupaten Bojonegoro, berkumpul di Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro untuk melakukan prosesi penyerahan api abadi.

Acara diisi dengan Tarian “Rondo Songo” yang merupakan sebuah tarian yang berasal asli dari Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, tempat pengambilan bersemayannya Api abadi Kayangan api. Tarian tersebut, diperagakan oleh 9 (Sembilan) wanita yang menceritakan tentang sejarah salah satu tempat di wilayah Kecamatan Ngasem itu.

Arak-arak Gunungan dalam acara Grebeg Berkah yang hendak dibawa ke Panggung utama Alun-alun Bojonegoro, pada rangkaian Hari Jadi Bojonegoro (HJB) Ke-339, Rabu (19/12/2016).
Arak-arak Gunungan dalam acara Grebeg Berkah yang hendak dibawa ke Panggung utama Alun-alun Bojonegoro, pada rangkaian Hari Jadi Bojonegoro (HJB) Ke-339, Rabu (19/12/2016).

Bupati Bojonegoro Suyoto beserta istri, bersama Forpimda dan rombongan kemudian berjalan kaki dari Pedopo Malowopati Pemkab Bojonegoro menuju ke Panggung Kehormatan yang berada di sebelah utara Alun-alun yang biasa diapakai latihan Sepak Bola itu. Sebelum para pejabat, di barusan terdepan adalah arak-arakan gunungan yang berasal dari hasil bumi yang berasal dari perut bumi Bojonegoro itu.

Kang Yoto – demikian, Bupati Bojonegoro Suyoto, akrab disapa – bersama rombongan naik panggung kehormatan untuk menyapa warga Bojonegoro yang sudah menunggu sejak beberapa jam yang lalu. Sebab mereka datang dari berbagai penjuru yaitu dari 419 desa dan 11 kelurahan yang ada di wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Acara diawali dengan menyanyi Lagu Ciptaan Bupati Bojonegoro Suyoto, yaitu Bangun Bojonegoro. Kang Yoto beserta istri, pejabat Forpimda, Kepala SKPD yang mengikutinya, menyanyi bersama dan berjingkrak-jingkrak di atas panggung tersebut.

Selanjutnya, warga diajak bersama-sama berdo’a untuk kejayaan Bojonegoro. Agar Bojonegoro, aman, tentram, bisa membangun daerahnya dan rakyatnya sejahtera. Do’a dipimpin oleh Ketua FKUB (Forum Komunikasi Ummat Beragama) KH Alamul Huda, dengan didampingi para tokoh lintas agama.

Acara dilanjutkan dengan sambutan Bupati Bojonegoro Suyoto. Dalam sambutanya, Kang Yoto menyampaikan tentang minyak dan gas bumi (migas) di Bojonegoro yang berada di puncak produksi namun harga minyak dunia turun sehingga berpengaruh pada APBD Bojonegoro.

“Kita harus bangga, walaupun migas turun, namun DAK Pendidikan kita naik dari 500 ribu per anak, untuk tahun ini naik menjadi Rp 2 juta per anak. Oleh sebab itu, jangan lagi anak Bojonegoro yang tak lulus SLTA,” tegas Kang Yoto, Rabu (19/10/2016).

Dengan adanya beasiswa yang berasal dari dana DAK (Dana Alokasi Khusus) yang bersumber dari APBD Bojonegoro itu, anak-anak di Bojonegoro yang bersekolah di SLTA sekarang sudah meningkat dari 67 persen menjadi 97 persen.

Pada kesempatan yang sama, Kang Yoto juga bicara tentang pertanian di wilayah kabupaten Bojonegoro yang mengalami peningkatan. Pada tahun 2016, hasil padi dari Kabupaten Bojonegoro menembus angka 1 juta ton.

Tidak hanya bicara tentang keberhasilan, Kang Yoto juga bicara tentang adanya 29 warga Bojonegoro yang bekerja sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial) di Timika, Papua yang dipulangkan gara-gara lokalisasinya yang dihuni ditutup oleh Pemerintah daerah setempat.

Diakhir sambutanya, Kang Yoto bicara tentang wilayah Bojonegoro yang tanah pertanianya dulu luas dan kini sudah mulai sempit akibat proyek migas dan berbagai pembangunan lainnya sehingga masyarakat Bojonegoro harus cerdas dan produktif,

“Dahulu lahan pertaniannya masih luas, tapi kini sudah mulai berkurang. Sehingga para pemuda sekarang ini, jangan hanya mengandalkan tanah ataupun sawah karena jumlah tanah semakin berkurang, belajarlah dengan ilmu kalian, dengan begitu kalian akan mendapatkan semuanya,” pungkasnya.

Dalam Grebeg berkah HJB ke-339, diwarnai insiden yang kurang sedap dipandang mata. Sebab, gunungan yang sampai di panggung utama hanya gunungan yang paling depan. Untuk gunungan yang lain, yang berisikan buah-buahan dan sayuran hasil panen itu, sudah dijarah dan dikeroyok warga yang sedang menonton dan berada di kanan-kiri jalan arak-arakan gunungan yang hendak menuju ke panggung utama itu, hingga buah-buahan tersebut habis tak tersisa. **(Kis/Yanto).

Leave a comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More