Kades Jatirenggo, Glagah, Lamongan Ini jadi Guru TK Tanpa Bayaran Sepeserpun

287

Berita Lamongan – Di Jaman Modern ini peranan perempuan bagi masyarakat semakin diperhitungkan. Karena wanita terkenal lebih telaten dari pria. Dan juga sekarang ini banyak wanita – wanita cerdas dan pintar.

Di Lamongan, Wanita menjabat sebagai kades atau kepala desa sudah tidak asing lagi, salah satunya yang viral adalah Kades Kedungkempul, Angel Emitasari.

Kali ini Kades Wanita bernama Try Deasy Kusuma Ning Ayu juga menyorot perhtaian, karena kinerjanya.

Deasy, begitu ia disapa, adalah seorang kepala desa (kades) seperti halnya Angel. Tetapi Deasy yang merupakan Kades Jatirenggo, Kecamatan Glagah, ternyata juga berprofesi sebagai pendidik karena ia masih bekerja sebagai guru di sebuah TK (taman kanak-kanak) di desanya.

Meski sudah memimpin pemerintahan di desanya, sampai sekarang lulusan Fakultas Psikologi Universitas Brawijaya Malang ini tetap rutin menekuni dunia pendidikan. Ia masih mengajar di TK Pratiwi 1 di desa itu dua kali sepekan.

“Saya masih mengajar pada Rabu dan Sabtu. Kalau Sabtu memang saya full mengajar,” kata Deasy kepada SURYA, Selasa (28/9/2021) lalu.

Berkutat di dua dunia sangat berbeda, yaitu pemerintahan desa dan pendidikan, tentu tidak mudah bagi kades berusia 40 tahun ini. Ia menghadapi berbagai persoalan sosial-ekonomi dan pendidikan dalam masyarakat yang dipimpinnya.

Baca Juga  Kecelakaan Motor Vs Truk Di Semanding, Tuban, 1 Orang Meninggal Dunia

Tetapi tantangan itu dihadapi Deasy demi mewujudkan pendidikan yang ramah anak di desanya. Bu guru Deasy juga punya visi luas mengenai pendidikan. Setelah memenangkan pilkades pada 2019 dengan mengalahkan kades incumbent saat itu, langkah Deasy makin panjang.

Ia memilih tetap mengajar di sekolah karena penasaran melihat turunnya minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di TK milik desa tersebut.

Apalagi ia adalah seorang kades, tentu bisa melihat data-data anak sekolah di desanya dan tergerak untuk makin peduli membantu pendidikan di sana. “Padahal TK itu milik desa sendiri, tentu harus mendapat dukungan dari warga masyarakat desa sendiri,” ungkap ibu dari anak bernama Princess Beatrix dan Krajl Melchior ini.

Namun dalam perjalanannya, Deasy melihat bahwa setiap tahun minat warga untuk menyekolahkan anaknya di TK Pertiwi 1 semakin berkurang. Fenomena itu tidak bisa disimpulkan dengan mudah, Deasy harus melakukan evaluasi.

Baca Juga  Kecelakaan Di Plosowahyu, Lamongan Mobil Box Vs Grandmax Satu Orang Meninggal Dunia

Dan untuk mengetahui lebih detail masalah itu, Deasy memutuskan untuk tetap mengajar. “Caranya saya turun mengajar dan tetap bersama guru-guru yang sudah ada,” tambahnya.

Pendekatan Deasy bisa disebut sebagai salah satu cara mewujudkan perbaikan kualitas dan minat di dunia pendidikan di desanya. Apalagi ia adalah kades, tentu setelah menemukan masalah, maka bisa menyusun program perbaikan bersama perangkat desa dan para tenaga pendidik.

Setelah mengajar, akhirnya Deasy menemukan bahwa penyebab turunnya minat bersekolah adalah cara mengajar yang kaku dan membosankan. Karena ia melihat bahwa para siswa digiring untuk bisa membaca.

“Padahal anak TK seharusnya diajak belajar dalam suasana seperti bermain. Tetapi mereka terlalu ditekan untuk bisa membaca, sistem itu masih dipakai sejak saya sendiri masih duduk di bangku TK,” ungkapnya.

Awalnya metode itu adalah mempersiapkan anak-anak agar sudah bisa membaca saat masuk jenjang SD. Padahal tingkat PAUD/TK untuk anak-anak masih di usia 0-6 tahun.

Deasy menambahkan, kondisi tersebut tidak lepas dari tuntutan dan pola pikir orangtua bahwa anak bisa dikatakan berprestasi jika memiliki nilai akademis yang baik. “Mindset masyarakat, anak itu kalau tidak berprestasi itu artinya nol,” jelas Deasy.

Baca Juga  Pencurian Motor Di Babat, Lamongan Berhasil Digagalkan

Padahal menurut Deasy, setiap anak memiliki kelebihan berbeda satu dan masing-masing anak punya keunikan tersendiri. Jadi sebetulnya tidak ada anak bodoh karena kepandaian anak tidak hanya dari sisi akademik. Misalnya ada anak yang punya minat musik, maka akan diarahkan ke musik.

Selama setahun mengajar, Deasy juga memberi pelajaran ekstra, yakni Bahasa Inggris dan musik. Ia ia ingin merubah metode pembelajaran serta pola pikir para orangtua di desanya, agar tidak lagi memaksakan kehendak dan lebih memahami kepribadian serta kharakter anak.

Ia berharap orangtua untuk tidak berpikir kalau anak tidak pintar karena tidak mendapat rangking di sekolah. “Jadi saya tidak mau sistem pendidikan di desa ini seperti itu. Yang jelas saya ingin pendidikan ramah otak, ramah anak,” tegasnya.

Untuk mewujudkan pendidikan ramah anak di desanya, Deasy mengajar dua kali seminggu. “Karena pada hari itu, pengurusan administrasi di desa kan libur,” kata Deasy.

Materi yang diberikan kepada anak-anak TK juga beragam seperti menari, menyanyi dan sebagainya. “Jadi meski mereka adalah anak-anak desa, tetapi mengenal pendidikan yang terarah dan berkharakter,” tandasnya. (sumber:surya.co.id)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More