Bupati Suyoto ‘Melawak’ di Jakarta Hanya Kenes Oleh: Agung DePe (catatan bagian dua)

0 64

Di negeri bebas ungkapan, kecerdasan kata hanyalah barang lumrah seperti deret angka di kertas kalender. Dan angka menunjukkan waktu akan digelarnya pilkada DKI Jakarta itu kian lebih bergegas untuk mencapai detik-detik ‘patahan’ dimanaSuyoto tidak lagi berbisingcas…cis…cus?

Berpolitik senantiasa merupakan keriangan juga resiko yang harus dilalui, seluruhnya tidak bebas dari frustasi dan kepedihan, keberhasilan sampai kegagalan paling jauh. Pula, panduan ajaran kegaduhan?

Bersamaan dengan itu, tentu saja kita boleh bilang,” Laissez-faire,” sebuah frasa bahasa Perancis yang secara harafiah berarti ‘biarkan terjadi’.

Bagaimana dengan Bupati Suyoto?

Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari, mengakui satu-satunya tokoh yang punya kans besar untuk mengalahkan Ahok adalah Risma. Meski pun saat ini berdasarkan hasil survei, Risma masih jauh tertinggal dibandingkan Ahok.

Kendati popularitas dan elektabilitas Ahok jauh di atas Risma, ternyata warga Jakarta menyukai sosok Risma. “Ada 84 persen warga Jakarta menyukai Risma, sementara Ahok 82 persen,” kata Qodari.

Bagaimana peluang Suyoto?

Memang, keriuhan otak-atik calon gubernur yang bakal bertarung di Jakarta saat ini hanya muncul nama Ahok dan Risma. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari hasil “Survei Opinion Leader-Menakar Kandidat DKI-1 Jakarta” yang dilakukan Laboratorium Psikologi Politik (LPP) Universitas Indonesia pada awal Agustus lalu.

Survei dilakukan dalam dua tahap, yakni Focus Group Discussion (FGD) dan Survei Opinion Leader. Sebanyak 206 pakar, 60 persen berlatarbelakang profesor dan doktor, terlibat dalam survei. Mereka berasal dari bebagai institusi seperti Fisipol UGM, LPP UI, Pusat Penelitian LIPI, CSIS, The Habibie Center, Lembaga Survei Indonesia.

Berdasarkan proses expert judgement terhadap sembilan tokoh yang dinilai layak untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta, tergambar bagaimana bakal serunya pertarungan Ahok versus Risma.
Ahok menang tipis atas Risma dalam hal “Skor Total Kapabilitas” yang meliputi visioner, intelektualitas, governability, kemampuan politik, kemampuan komunikasi politik, atau leadership, yakni 7,87 melawan 7,77.

Sebaliknya, Risma justru ungguldalam hal “Karakter Personal, yakni 8,3 melawan 7,9 untuk “Integritas Moral”, serta 7,1 melawan 5,6 untuk “Temparemen”. Sebagai Petahana, wajarkalau Ahok masih jauh di atas Risma dalam hal tingkat elektabilitas calon Gubernur DKI Jakarta, yakni 47,29 persen melawan 11,33 persen.

Ahok dipastikan bakal maju dengandukungan tiga partai yang jumlahnya 24 kursi, yakni Golkar 9 kursi, Nasdem 5 kursi dan Hanura 10 kursi. Sudah lebih dari cukup untuk memenuhi syarat UU No 8 Tahun 2015 tentang Pilkada yang minimal 22 kursi (20 persen kursi di DPRD).

Sementara itu, enam dari tujuh partai yang tergabung di Koalisi Kekeluargaan sepakat mengusung Sandiaga Uno dan Saefullah sebagai pasangan calon gubernur di Pilkada DKI 2017.

“Kalian boleh tulis Sandiaga-Saefullah untuk Jakarta Beradab,” kata Wakil Ketua DPRD DKI dari Fraksi Partai Gerindra, Muhammad Taufik, di gedung DPRD DKI Jakarta (15/8/2016).

Terpisah, dan paradoksal, melalui pernyataan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, pihaknya tengah membangun komunikasi dengan sejumlah partai politik untuk meminta Risma sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

“Jika nantinya Risma bersedia dicalonkan, maka PAN memastikan akan mengusung Risma pada pilgub DKI 2017 mendatang,” tandas Zulkifli usai melantik pengurus dewan pimpinan wilayah (DPW) PAN Sumatera Barat, di Kota Padang, Sumatera Barat (8/8/2016).

Terbaru, Ahok mengaku sudah bertemu dengan Ketum PDIP Megawati dan mengantongi restu untuk berpasangan dengan Djarot Syaiful Hidayat.

“Bu Mega, intinya ya beliau tetap, saya dengan Djarot, beliau setuju,”kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta,Rabu (17/8/2016).

Belakangan ini PAN menggunakan tagline “Politik Tanpa Gaduh”.Sangat mungkin ‘kekenesan’ Bupati Suyoto yang telah memerankandirinya mencalonkan gubernur DKI hanya bisa dibaca sebagai kegenitan berlebihan.

Tetapi bagaimana pun dalam pertunjukan lawak, seorang pembanyol harus bisa menonjolkan unsur daya kejut dan daya cegat (sensasional): sebelum ha…ha…ha dengan perih – sebelum lampu panggung padam!

Penulis adalah wartawan dan aktivis kebudayaan.

Leave a comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More