Momen Sakral Larung Sesaji Telaga Ngebel Ponorogo di Awal Bulan Suro

Panjoel Kepo

Momen Sakral Larung Sesaji Telaga Ngebel Ponorogo di Awal Bulan Suro
Bagikan

rakyatnesia.com – Kawasan wisata Telaga Ngebel di Ponorogo dipadati pengunjung yang ingin menyaksikan momen sakral larung sesaji di awal bulan Suro. Tradisi ini merupakan simbol perayaan tahun baru Islam atau Suro dalam bahasa Jawa.

Dalam prosesi tersebut, beberapa buceng raksasa diarak mengelilingi telaga sebelum dilarung. Masyarakat sangat antusias menyaksikan seluruh rangkaian acara tersebut.

Pada malam sebelumnya, juga diadakan arak-arakan obor dan larung kepala kambing sebagai simbol wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagi sesembahan ke lingkungan sekitar.

Upacara larung sesaji ini rutin digelar tiap tahun oleh Pemkab Ponorogo. Mereka memang ingin nguri-nguri (menjaga) adat budaya masyarakat setempat. Sekaligus sebagai daya tarik bagi wisatawan.

Baca Juga  Pemotor Tewas di Raya Mastrip Surabaya, Diduga Korban Tabrak Lari Truk

Pantauan rakyatnesia, arak-arakan tumpeng raksasa yang dibawa oleh paraga berangkat dari kantor Kecamatan Ngebel dan dibawa berkeliling mengitari Telaga Ngebel.

Sebelum prosesi dimulai biasanya ada penampilan Reog dan juga tarian tradisional. Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan dari para sesepuh juga Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.

Kemudian ada juga buceng porak yang diperebutkan oleh masyarakat yang mencari apuah atau berkah. Sementara, tumpeng raksasa berisi hasil bumi dilarung atau ditenggelamkan di tengah Telaga Ngebel.

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan larung ini memang dimaksudkan untuk menguri-nguri (menjaga) budaya dan tradisi yang ada di wilayah wisata Telaga Ngebel.

Baca Juga  Bakat Striker Timnas U-16 Fadly Alberto Terlihat Saat di SSB Bojonegoro

“Tumpeng ditenggelamkan di telaga, jangan dipahami mistik, jangan dipahami supranatural. Mari kita pahami bersama, bersedekah itu tidak hanya kepada manusia tapi ke binatang ikan,” tutur Giri kepada wartawan, Minggu (7/7/2024).

Giri menerangkan ini sebagai salah satu bentuk syukur kepada Allah SWT atas karunia pemberian Telaga Ngebel yang indah mempesona. Kekayaannya melimpah ruah, ada budaya elok mempesona, ada penduduknya ramah, tamah, etos kerja bagus. Bertani dengan takdim dengan patuh.

“Ada durian, alpukat, kopi, ikan di telaga, ini butuh disiarkan supaya masyarakat luas tahu. Sekaligus membangkitkan perekonomian,” imbuh Giri.

Baca Juga  PNS di Mojokerto Tipu Tetangga dengan Modus CPNS Tanpa Tes Hingga Rp 160 Juta

Momen tahun baru Islam ini, lanjut Giri, sebagai kaca benggala untuk instropeksi diri. Memperbaiki kesalahan di masa lalu dan menatap masa depan untuk Ponorogo hebat.

“Harapan saya ke depan, seluruh SMA, SMK di Ponorogo ikut kirab tumpeng di Ngebel. Kenapa? Supaya mengajarkan generasi muda tentang budaya larungan,” pungkas Giri.

Bagikan

Also Read