Situs Sedah Di Kec Modo, Lamongan, Ungkap Penamaan Beberapa Wilayah Di Kota Soto

5

Rakyatnesia.com – Kabupaten Lamongan, pada zaman dahulu kala merupakan salah satu kota penting. Hal ini dibuktikan dengan banyak ditemukan beberapa situs Purbakala. Salah satunya di Dusun Sedah, Desa Pule, Kec Modo.

Situs Sedah terletak di Dusun Sedah, keberadaan situs in iberhubungan dengan Empu Sedah, seorang pujangga Jawa yang menulis Kakawin Bharatayudhha dalam bahasa jawa kuno.

Lokasi Situs Sedah ini memang jauh dari pusat Kota Lamongan, sekitar 40 km. Di Situs Sedah terdapat setidaknya 2 situs kepurbakalaan, yaitu Punden Sentono atau Punden Sedah dan Prasasti Sedah yang sayangnya sudah tidak terbaca lagi. Selain itu, di sekitar dan di sepanjang jalan menuju 2 situs ini banyak ditemukan serpihan-serpihan keramik kuno yang diperkirakan berasal dari beberapa negara di asia lain.

“Untuk menuju ke Punden Sentono harus ditempuh dengan jalan kaki sejauh sekitar 500 meter,” kata pemerhati budaya Lamongan, Supriyo saat dikonfirmasi, Selasa (9/6/2020).

Letaknya cukup tinggi dan luas yang mencapai hingga setengah hektar membuatnya mudah dilihat dari kejauhan. Di sekitar punden terlihat batas pagar batu alam setinggi pinggang yang tertata rapi membentuk area persegi berlapis dengan area yang berbeda luasan.’

Dia mengungkapkan masing-masing lapisan tersebut terdapat pintu masuk. Setidaknya ada tiga pintu pagar menuju area utama bangunan punden berbentuk menyerupai makam tinggi setinggi 1 meter lebih dengan lapisan batu-batu alam yang menjadi alas dari bangunan punden tersebut.

“Dari sedikit yang saya ketahui mengenai nama Dusun Sedah, tampaknya nama Sedah sangat berkaitan dengan keberadaan Punden Sentono ini yang konon dipercaya sebagai Petilasan Empu Sedah yang hidup pada masa Kerajaan Kadiri di Abad 11,” terang Priyo.

Pada area utama dengan luas sekitar 30×30 meter itulah, jelas dia, terdapat bangunan persegi panjang yang menyerupai makam tinggi yang terbuat dari batu putih kapur. Beberapa fragmen, aku Priyo juga banyak ditemukan di situs ini berupa batu berukir, pipisan, gandik, lumpang batu kecil, umpak, juga batu alam yang di tata menyerupai kursi.

Situs Sedah Di Kec Modo

Situs Sedah Di Kec Modo

“Bangunan serupa mirip dengan altar pemujaan di beberapa tempat lain seperti yang terdapat di sekitar Gunung Penanggungan. Bangunan ini terletak di bagian tengah dan di sekelilingnya banyak terdapat reruntuhan struktur kuno bercampur batu alam. Temuan data arkeologi ini juga didukung dengan hasil penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang melakukan riset kepurbakalaan pada tahun 2013 dan 2014,” ujarnya.

Dia menambahkan di sekitar lokasi juga banyak temuan koin Tiongkok dan sisa terak besi yang mengindikasikan adanya aktivitas pengerjaan logam seperti keris dan senjata.

Masyarakat sekitar, terang Priyo, menghubungkan bangunan menyerupai makam tersebut dengan tokoh pujangga Jawa yang bernama Empu Sedah, sesuai dengan nama dusun, situs ini berada. Konon, di sekitar tempat inilah Empu Sedah dan para Sentana kerajaan pada masa Kerajaan Kadiri tinggal.

Empu Sedah, menurut Priyo, pujangga Jawa yang terkenal menulis Kakawin Bharatayuddha dalam bahasa Jawa Kuno yang hidup pada masa pemerintahan Jayabaya dari Kerajaan Kadiri atau Panjalu di Jawa Timur.

“Setelah dari sini, Empu Sedah kemudian diangkat menjadi penasehat Raja Jayabhaya di Kadiri,” tandas Priyo.

Berjarak sekitar 200 meter ke timur dari Punden Sedah atau Punden Sentono, tambah Priyo, terdapat Prasasti Sedah menuju lokasi situs berikutnya yaitu Prasasti Sedah. Sepanjang jalan menuju Prasasti Sedah ini juga banyak ditemui pecahan keramik asing kuno seperti pada saat situs Punden Sentono.

Priyo menyebut, belum diketahui hubungan antara prasasti dengan ukuran lebar 95 cm, tinggi 153 dan ketebalan 29 cm dengan situs Punden Sentono yang letaknya berdekatan itu. “Aksara pada prasasti sama sekali sudah tak terlihat bahkan badan prasasti juga banyak mengalami pelapukan dan kerusakan seperti bekas dipupus. Prasasti ini masih terawat,” terangnya.

Sekretaris Kabupaten Lamongan Yuhronur Efendy menambahkan, dari bukti jejak sejarah dan situs purbakala dan cerita tutur yang berkembang, bisa disimpulkan jika wilayah Lamongan dulunya adalah wilayah yang sudah sangat berkembang dan maju. Bahkan di wilayah Kecamatan Modo terdapat 8 prasasti batu.

“Keberadaan Situs Sedah dengan sejumlah artefak arkeologis di atasnya juga menunjukkan adanya wilayah perkampungan kalangan menengah dan para petinggi kerajaan, mengingat benda berbahan keramik merupakan barang mewah pada saat itu,” terang Yuhronur.

Keberadaan toponimi Sedah, lanjut Yuhronur, juga menjadi menarik karena berhubungan dengan nama dusun dan pujangga Empu Sedah di masalalu. Nama Empu Sedah sebagai pujangga kerajaan, menurut pria yang juga menjabat sebagai CEO Persela ini, juga mengindikasikan bahwa tradisi sastra, penulisan dan kesenian juga sudah muncul di Lamongan pada masa itu.

“Perdagangan dengan bangsa asing seperti kerajaan Tiongkok, Campa, Vietnam, Kamboja dan lainnya di masa lalu juga sudah terjadi di wilayah Lamongan dan meninggalkan jejak perjalanan sejarah,” ungkap Yuhronur.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More