Zen Samin Memungkirkan Bupati Suyoto Semar, Oleh: Agung DePe

0 139

Zen SaminBengawan Solo memakan korban lagi. Bedanya, bukan karena orang hanyut atau orang mati tenggelam. Ini buntut memalukan berkebudayaan: sebutannya festival (pertama) Bengawan Bojonegoro. Arus ketidakberesan keuangan yang dipertanyakan dengan nada tinggi oleh Ketua Festival Bengawan Bojonegoro 2014, Zen Samin kepada pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro melalui Facebook menjadikan pria pelaku sastra Jawa ini diseret ke penjara.

Persidangan hendak mendakwa dengan pasal karet pencemaran nama baik hingga pelanggaran UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) kepada seniman dipersalahkan itu masih berjalan, sekaligus membarengi menggembitanya Bupati Suyoto memutakhirkan pelbagai potensi obyek wisata Bojonegoro, terkini.

Selalu ada tindak kesembronoan mengalir di kekuasaan, kalau tidak boleh disebut kengawuran berkepanjangan tangan kekuasaan di kabupaten cap termiskin ke-9 di Jawa Timur belakangan.

Ini berlawanan dengan keelokan spirit batu simbol Semar yang dipertontonkan di alun-alun Bojonegoro. Ongkos mengusung bongkahan batu seberat 80 ton dari tempat asalnya di lereng Gunung Pandan sebesar Rp 300 juta. Sementara itu, Zen Samin hanya gara-gara menagih menutup kekurangan biaya sebagian acara sesudah terlaksananya festival Bengawan Bojonegoro Rp 15 juta, dibayar dengan pengurungan badan.

Tidak ada penguasa berhati Semar di sini, kecuali penguasa berkepala batu arca. Kalimat ini sungguh sepadan kalau menangisi peringkusan Zen Samin dengan membandingkan simbol penyerupaan Semar oleh Bupati Suyoto di depan kantornya berkuasa.

Di hadapan cahaya prestasi keberhasilan Bupati Suyoto menurut lajur statistik yang diceritakan bergemilang, tetapi juga kerab kedodoran, sikap Zen Samin meneriaki sesuatu yang serong telah menjadi penabuh genta di tengah kekosongan. Seorang seniman yang dipenjarakan lantaran meminta hak logis akibat kerugian materi yang ditanggungnya memang tidak bisa disebut pahlawan. Ini mutlak menyangkut soal keadilan.

Andai saja Bupati Suyoto itu pamomong? Andai saja Bupati Suyoto mengambil langkah cara Semar? Toh festival Bengawan Bojonegoro pun akhirnya menjadi tetenger bergengsi milik kabupaten Bojonegoro di tahun-tahun berikutnya. Ini awalnya urusan remeh bukan? Semar selalu digdaya menyelesaikan perseteruan besar. Bupati Suyoto bukan Semar.

Kesempatan pertama berkearifan Semar sebenarnya sangat mungkin bisa diperankan Suyoto, saat Imam Wahyu Santoso, pejabat di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro menghadap dirinya sebelum mengadukan ketersinggunannya ke polisi karena cuitan ‘ wangsalan’ Zen Samin?

“Saya menghadap bupati sebelum melapor polisi,” kata Imam Wahyu Santoso kepada penulis di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. Itu artinya bupati setuju?

Kelit lidah Bupati Suyoto bergulir saat Zen Samin telah benar-benar menjadi pesakitan. ”Saya mendorong mereka islah. Supaya persoalan ini tidak berkepanjangan,” elak Suyoto, sebagaimana dikutip detikNews (11/Mei/2016).

Tradisi kepemimpinan Semar adalah, pemimpin tidak menangisi dirinya yang dihujat rakyat, tetapi menangisi rakyat yang diperlakukan semena-mena oleh bawahan-bawahannya. Seorang berkepemimpinan Semar tidak marah saat dimarahi rakyat, tetapi memarahi dirinya sendiri akibat dimarahi rakyat. Semar tidak pernah mengentuti rakyat, tetapi membuang kentut ke arah punggawa yang telah salah bekerja menjalankan kewajiban. Semar memiliki kepekaan wening saat-saat wingit mengempa.

Suyoto hanya bupati saja. Batu simbol Semar adalah tumpukan imajinasi politik ringkas. Memang tidak gampang memanifestasikan arti sebuah simbol. Berkaitan dengan mitologi yang mereflesikan segala keunggulan sifat luhur Semar, dalam konteks Zen Samin, Suyoto gagal mengidentifikasikan dirinya sebagai pemimpin berjiwa Semar. Dalam interpretasi makna tidak terjadi pengejawantahan Suyoto dari simbol pemelihara ketentraman itu?

Bagi sejumlah seniman Bojonegoro, wajar kalau menimbang-tawar ulang dalam menunjukkan sikap apresiasi estetik secara mendalam nilai estetik yang tersirat dalam batu simbol Semar. Sebuah sanggahan terhadap benda fisik alat komunikasi nonverbal, simbolisasi Suyoto: harmonisasi atau penyelarasan antara jagad alit (diri Suyoto) dengan jagad agung (kehidupan rakyat).

Batu Semar adalah bahasa nonverbal, mengarah pada reaksi-reaksi alami seperti perasaan atau emosi. Komunikasi nonverbal dipandang sebagai pesan yang holisitik, lebih daripada sebagai fungsi informasi yang sederhana. Fungsi holistik mencakup identifikasi, pembentukan dan manajemen kesan, muslihat, emosi dan struktur percakapan.

Fungsi holistik tersebut diturunkan lagi menjadi delapan fungsi, yaitu pengendalian terhadap perilaku masyarakat, kesenangan, penolakan, peragaan informasi kognitif, peragaan informasi kognitif, peragaan informasi afektif, penipuan diri (self-deception) dan muslihat terhadap orang lain.

Dari komunikasi nonverbal, Albert Mahrabian (1971) menyimpulkan, bahwa tingkat kepercayaan dari pembicaraan orang 7% berasal dari bahasa verbal, 38% dari vokal suara, dan 55% dari ekspresi muka. Jika terjadi pertentangan antara apa yang diucapkan seseorang dengan perbuatannya, orang lain cenderung mempercayai hal-hal yang bersifat nonverbal.

Desain operasi kebudayaan abstraksi batu Semar di depan gedung Pemkab Bojonegoro akan dibaca hanyalah mistifikasi, ekploitatif, dominatif. Simbol memang menjadi elemen penting dalam kekuasaan. Simbol merupakan motif kebertahanan keberlangsungan kekuasaan. Konstruksi beginilah ambiguitas kekuasaan menunjukkan artefak-artefaknya, meminjam berbagai mitologi masa lalu, parodi, distorsi, dan permainan makna. Bentuk dan ikon serta pengelabuhan identitas dan penopengan.

Tutup kata, batu Semar itu hanya menjadi menhir (tugu batu tungal). Menandaskan keguratan ‘senyum samar’ segala kebohongan kekuasaan menikam. Mengkontradiksikan atau menegaskan pesan verbal seperti dalam sarkasme atau sindiran-sindiran tajam. Batu Semar menjadi simbol lain seseorang mengacungkan dua jari membentuk huruf V (victory) bermakna kemenangan: buat dirinya sendiri, buat kekuasaannya sendiri. Zen Samin paradoksal?

Penulis adalah Kepala Biro Koran Mingguan Optimis Bojonegoro dan Tuban
E-mail: tjap_debumerah@yahoo.co.id

Leave a comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More