Lokalisasi Illegal di Tanggul Pacing, Sukosewu. Masih Ramai Dikunjungi Lelaki Hidung Belang

0 976

BOJONEGORO (Rakyat Independen)- Praktek Porstitusi di wilayah perkotaan sudah banyak yang ditutup oleh pemerintah. Tapi, hal itu tidak berlaku di prostitusi illegal yang ada di desa-desa, yang justru kian marak. Para PSK (Pekerja Seks Komersial) di wilayah kota yang “diobrak” justru pulang ke desa-desa dan menjadi penjaja cinta di sebuah warung esek-esek yang berkedok warung kopi (warkop) itu.

Lokalisasi illegal yang ada di Desa Pacing, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jatim, hingga kini masih beroperasi. Lokalisasi ada di 2 (dua) titik, yakni di utara tanggul ada warung milik Emi (45) dan Siti (41). Dua warung itu, masing-masing menyediakan PSK 3 hingga 4 orang, dan semuanya bisa melakukan hubungan layaknya suami istri di situ alias tembak di tempat.

Sedang, 2 (dua) rumah lainya, ada di selatan Irigasi atau biasa disebut Kidule Nggawan. Lokasinya juga berada di Pacing dukuhan, yang masuk Desa Pacing yakni Warung milik Damin (62) dan Yit (51). Kondisi di kedua warung itu, juga menyediakan wanita penghibur yang siap memuaskan para lelaki hidung belang.

Anehnya, lokalisasi illegal yang ada di situ, ternyata aman-aman saja dan tidak tersentuh oleh pihak yang berwajib. Lokasinya jauh dari perkotaan sehingga tidak pernah tersentuh oleh pihak berwajib yang ada di Kabupaten Bojonegoro.

Sehingga, terkesan ‘bisnis lendir’ itu, seperti dipelihara dan ada oknum yang jadi beking dari usaha yang mengarah pada penyakit masyarakat (pekat) itu. “Kenyataanya, warung remang-remang di situ (Pacing) kondisinya ya aman-aman saja,” kata salah seorang warga setempat, yang enggan disebutkan namanya.

Keempat warung esek-esek yang berkedok warkop itu, hingga kini masih buka seperti biasa. Masing-masing warung dihuni oleh 1 mucikari alias germo dan punya 3 hingga 4 wanita penghibur. Cewek-cewek yang ‘buka praktek’ di situ ada warga Bojonegoro sendiri dan ada pula yang berasal dari luar Kabupaten Bojonegoro.

Salah seorang PSK sebut saja Mawar (bukan nama sebenarnya), dia mangkal di Tanggul Pacing karena kondisi sepi dan aman karena jauh dari keramaian. “Di sini aman mas. Kalau di tempat-tempat lain, sekarang sering ada razia,” katanya serius.

Beberapa warga yang berhasil ditemui rakyatindependen.id berharap agar desanya bisa bersih dari segala bentuk prostitusi itu. Tapi, mereka mengatakan sudah malas untuk ‘ngobrak’ karena nanti malah salah faham dengan pemiliknya sebab para pemilik warung maksiat itu sudah masuk warga dan terdaftar sebagai penduduk desa Pacing.

“Mau ngobrak yo gak enak mas. Lha wong para pemilik warkop yang dipakai ajang mesum itu, semua sudah memiliki KTP Pacing. Mereka sudah bagian dari warga kami, jadi mau ngobrak ya gak enak mas. Ben wae, kecuali kalau Satpol PP atau Pak Polisi yang ngobrak-obrak mereka,” katanya berharap. **(Team).

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More