Sudah Ada Layanan GeNose Di Stasiun Lamongan, Tarif Lebih Murah Dari Pada Rapid Test

30

Berita Lamongan – Buat para warga di Lamongan yang ingin melakukan perjalanan jauh menggunakan kereta api ada kabar gembira karena genos sudah ada di Stasiun Lamongan. pihak PT KAI menambah tes Genose C19 di dua stasiun Lamoongan dan Sidoarjo. Manajer Humas Daop 8 Luqman Arif membenarkan kabar tersebut. Penambahan secara bertahap pada akhir Maret ini, menurut Luqman, merupakan bentuk komitmen KAI dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan untuk memenuhi syarat bepergian dengan kereta api, pada masa pandemi COVID-19.

“Total saat ini ada 6 stasiun yang melayani GeNose C19 di Daop 8. Yaitu Surabaya Gubeng, Surabaya Pasarturi, Malang, Sidoarjo, Lamongan, dan Sidoarjo,” kata Luqman saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (30/3/2021).

Menurut Luqman, kereta api menjadi moda yang paling awal menerapkan pemeriksaan GeNose C19. Hingga 28 Maret, KAI Daop 8 telah melayani 46 ribu peserta pemeriksaan GeNose C19 di stasiun. Masyarakat antusias akan produk buatan Indonesia ini, dikarenakan proses yang mudah, cepat, nyaman dan harganya terjangkau. Yaitu hanya Rp 30 ribu.

baca juga : Lelaki Asal Sukorame Ini Tega Cabuli Anak Usia 8 Tahun Di Kandang Ayam

“Untuk dapat melakukan pemeriksaan GeNose C19 di stasiun, calon penumpang harus memiliki tiket atau kode booking KA jarak jauh yang sudah lunas. Serta tidak boleh merokok, makan, minum (kecuali air putih) selama 30 menit sebelum melaksanakan tes,” terang Luqman.

Luqman menambahkan, hasil pemeriksaan GeNose C19 di 6 stasiun tersebut dapat dipakai untuk keberangkatan di seluruh stasiun yang melayani perjalanan KA jarak jauh. “Dengan semakin banyaknya stasiun yang melayani pemeriksaan GeNose C19, diharapkan dapat mendukung kebutuhan masyarakat yang ingin bepergian dengan kereta api sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah,” imbuhnya.

Salah seorang penumpang KA di Stasiun Lamongan Imam Mukhtar mengatakan, keberadaan GeNose C19 di stasiun Lamongan ini memudahkan penumpang. Imam juga mengaku baru pertama kali menggunakan layanan GeNose C19 sebagai tes COVID-19.

Baca juga : Wartawan Lakukan Aksi Unjuk Rasa Untuk Rekan Yang Teraniaya

“Saya baru pertama kali ini. Ini mau ke Bandung,” terang Imam.

Imam menyebut, layanan GeNose C19 ini memudahkan bagi penumpang yang biasanya harus mencari tes COVID-19 keluar. “Ini memudahkan bagi penumpang seperti saya, biasanya kan harus cari keluar, nah sekarang sudah ada di sini,” pungkasnya.

Keunggulan Menggunakan GeNose Dari Pada Rapid Test

Ketua tim pengembang GeNose, Kuwat Triyana mengatakan memang ada alat yang mirip GeNose C19 yang diproduksi di beberapa negara seperti Israel dan Singapura. Namun dari sisi konsep dan teknologi yang dipakai berbeda.

“Konsepnya beda. Mulai dari ambil sampelnya. Di tempat lain, ambil sampelnya sama seperti GeNose C19, memakai embusan nafas. Tapi caranya di sana, langsung. Sedangkan GeNose memakai plastik,” paparnya pabrik GeNose di Science Technopark (STP) UGM, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (5/12).

Kuwat mengatakan, pengambilan sampel embusan nafas secara langsung akan ada risiko terjadinya penularan Covid-19. Sementara, GeNose C19 yang memakai plastik dan terpisah dengan alatnya maka risiko tersebut bisa terhindarkan.

“Plastik yang dipakai kan tidak ada hubungannya ke alat. Jadi bisa dihembus di rumah, kemudian dibawa ke sini (lokasi alat GeNose). Kalau pengambilan langsung, satu alat dipakai berkali-kali oleh banyak orang, itu akan menularkan (kalau ada yang positif),” katanya.

Baca juga : Warga Karangbinangun, Lamongan Ditemukan Meninggal Tenggelam Di Tambak Dengan…

Kuwat mengatakan, alat mirip GeNose C19 yang ada di beberapa negara tersebut saat ini masih belum dipasarkan. Sehingga ia tidak tahu terkait perbandingan harga dengan GeNose yang dijual Rp62 juta.

Kuwat mengatakan, GeNose C19 saat ini masih belum dipatenkan di pasar luar negeri. “Dalam negeri sudah kami patenkan, sudah terlindungi. Kalau luar negeri, kami lihat pasarnya dulu,” ucapnya.

GeNose C19 memiliki tingkat akurasi sebesar 95 persen. Menurut Kuwat, dalam sekali pengujian membutuhkan waktu maksimum tiga menit.

Ketika diketahui positif maka dilihat terlebih dahulu probabilitasnya. Kalau diketahui di bawah 0,6 maka orang tersebut diminta untuk menunggu 30 menit lagi untuk melakukan tes kembali. “Saat menunggu itu tidak berdiam diri. Tapi kumur-kumur, gosok gigi, dan lainnya,” katanya. Probabilitas 0,6 tersebut merupakan positif rendah atau pertengahan. Menurutnya bisa jadi karena data yang terekam dipengaruhi dari makanan yang dikonsumsi.

“Data kami, makanan yang mempengaruhi atau menyebabkan orang itu terdeteksi positif palsu, tapi karena dia makan makanan yang signifikan seperti jengkol, pete, durian. Makanan semacam itu menghasilkan senyawa yang masuk ke rongga mulut. Tapi tidak hinggap seperti halnya senyawa yang dihasilkan Covid-19,” katanya.

Menurutnya, selama ini mereka yang terdeteksi probabilitas rendah setelah dilakukan tes kembali maka akan negatif Covid-19. “30 menit tes lagi, hampir semua negatif,” katanya.

Kuwat mengatakan, ketika memang benar-benar diketahui positif Covid-19 maka direkomendasikan untuk melakukan tes PCR atau swab. Namun dilakukan dua hari setelah dinyatakan positif pada alat GeNose C19.

“Ini lah uniknya bisa mendeteksi lebih awal. Jadi hari kedua (terpapar) sudah terdeteksi. Kalau sekarang positif terus hari ini juga di-PCR kemungkinan juga masih negatif. Karena PCR hari keempat baru akurat,” ucapnya.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More