Korban Tenggelam Penambang Pasir Manual, Belum Juga Ditemukan

0 125

TUBAN (Rakyat Independen)- Korban tenggelam di Daerah Aliran sungai (DAS) Bengawan Solo, tepatnya di wilayah Desa Glagahsari, Kecamatan Soko, Kabupate Tuban, Jawa Timur, yang terjadi Senin (09/01/2017) sekira pukul 15.00 wib, ternyata hingga Selasa (10/01/2017) petang, belum juga ditemukan.

Tim SAR (Search And Rescue) dari BPBD Tuban dengan menggunakan 1 (satu) perahu karet dan dibantu tim dari Polres Tuban yang juga menggunakan 1 (satu) perahu karet. Selain itu, juga warga setempat dengan 5 (lima) perahu.

Namun, korban yang dinyatakan tenggelam sejak Senin (09/01/2017) tak kunjung ditemukan. Korban tenggelam atas nama Supar (51) yang berasal dari Desa Jatiduwur, RT 05, RW 06, Kecamatan Kesamben, Jombang itu, sehari-hari bekerja mengambil pasir dengan menyelam ke dasar sungai atau dengan sistem manual. Saat korban menyelam ternyata tak muncul-muncul lagi ke permukaan, hingga kemudian dilaporkan tenggelam oleh saksi mata yang melihat kejadian itu ke Mapolsek Soko.

Kepala BPBD Tuban Joko Ludiono mengatakan, belum ditemukannya korban tenggelam di bengawan Solo yang berada di Desa Glagahsari, kecamatan Soko itu disebabkan kondisi dasar sungai Bengawan Solo yang penuh dengan lumpur sehingga korban tak segera muncul ke permukaan.

Korban Tenggelam Penambang Pasir Manual, Belum Juga Ditemukan 1
Puluhan warga yang menyaksikan Tim SAR dari BPBD Tuban dan Polres Tuban, saat melakukan pencarian korban tenggelam Supar (51) di Bengawan Solo, tepatnya di Desa Glagahsari, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jatim, yang belum juga ditemukan. Rencananya, besok pagi akan dilaksanakan pencarian kembali korban tenggelam penambang pasir manual yang tenggelam sejak Senin (09/01/2017), hingga Selasa (10/01/2017) belum juga ditemukan.

“Kondisi Bengawan solo airnya lumayan tinggi karena musim penghujan. Ditambah lagi dengan kondisi dasar sungai yang berlumpur sehingga pencarian agak menyulitkan Tim SAR dari BPBD Tuban yang telah diterjunkan, yang dibantu dari Polres Tuban dan warga setemapt itu. Karena berlumpur, membuat korban tak segera muncul ke permukaan air,” ungkapnya.

Masih menurut Joko Ludiono, pihak BPBD Tuban telah melakukan pencarian korban sejak pagi hingga petang ini, yang dibantu Tim dari Polres yang dipimpin langsung oleh Kasat Shabara AKP Eko Wibowo, serta warga setempat yang turut mencari korban dengan menggunakan perahu kayu yang biasa dipakai sebagai alat transportasi di Bengawan Solo itu.

“Malam ini, pencarian kita hentikan. Besok pagi kita lanjutkan kembali pencarian. Jika belum juga ketemu, kita akan melakukan pencarian selama 7 (tuju) hari terhitung dari kejadian tenggelamnya korban tersebut,” katanya menegaskan.

Berdasarkan pantauan rakyatnesia.com di lapangan menyebutkan, telah terjadi simpang siur informasi tentang penyebab tenggelamnya korban. Ada yang bilang karena menyelam mengambil pasir dan ada yang bilang mencari ikan. Namun, menurut informasi dari masyarakat setempat, korban tenggelam itu karena menyelam mengambil pasir dengan cara manual.

“Korban tenggelam karena mengambil pasir di Sungai Bengawan solo yang berada di Desa Glagahsari ini. Selanjutnya pasir dikumpulkan di tepi sungai, lantas dibeli oleh para sopir truk, untuk dijual ke warga yang hendak membangun rumah atau untuk bangunan lainnya. Para penambang pasir itu datang ke desa ini (Glagahsari) dengan rombongan bersama temanya yang juga berasal dari Jombang, untuk bekerja ambil pasir,” tegas Abu (55) warga Desa Glagahsari, Soko, Selasa (10/01/2017) petang.

Masih menurut Pakdhe Abu – demikian dia akrab disapa – yang benar, korban meninggal tenggelam karena mengambil pasir di Bengawan Solo, bukan sedang mencari ikan. Jika tidak percaya, bisa dihadirkan saksi-saksinya atau bisa ditanyakan ke warga Se-Desa Glagahsari, mesti mereka akan memberikan keterangan yang sama yaitu korban adalah penambang pasir manual.

Dari sumber lain ZN (30) yang juga warga Desa Glagahsari menyebutkan, di wilayah Desa Glagahsari, hingga saat ini masih terdapat beberapa titik tambang pasir manual yang setiap hari bisa menghasilkan pasir puluhan dump truk.

Hanya saja, semua tambang pasir di Glagahsari manual dengan menggunakan manusia untuk mengambil pasir di dasar bengawan itu. Mereka menyelam ngambil pasir dan menggunakan perahu untuk mengangkut pasir ke tepi sungai. Sekarang ini, sudah tak ada lagi tambang mekanik atau pakai mesin sedot, sebab selain dilarang oleh pemerintah, warga setempat juga tak memberikan izin jika ada tambang mekanik, sebab dapat merusak lingkungan hingga membuat tanah di sekitarnya longsor. **(Muji/Kis).

Leave a comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More